Sword Art Online – Catatan Pengarang

Catatan Pengarang


Aku menulis Sword Art Online untuk Dengeki Light Novel Award[1] 7 tahun lalu di tahun 2002, dan itu adalah novel pertama yang pernah aku tulis.

Tapi ketika aku entah bagaimana bisa menyelesaikannya, naskahnya lebih dari 120 halaman, yang merupakan batasannya waktu itu. Karena aku tidak memiliki kemampuan dan kemauan untuk memangkasnya supaya pas dengan batasannya, aku bersujud menghadapi tembok dan bergumam “Aku tidak peduli lagi…”

Tapi karena sifatku yang lemah, aku tidak bisa membuang semua naskahku dan dengan mudahnya berpikir “kenapa aku tidak menaruhnya di internet?”; aku membuat website pada musim gugur. Untungnya, aku mendapatkan tanggapan baik dari banyak orang. Dengan ini sebagai motivasiku, aku terus melanjutkan seri ini; aku menulis sebuah sekuel, sebuah cerita sampingan dan sebuah sekuel lainnya. Aku terus melakukannya seperti ini dan sebelum aku menyadarinya, 6 tahun sudah berlalu.

Pada tahun 2008 aku memutuskan untuk mencoba lagi. Aku menulis cerita lain (yang lagi-lagi lebih panjang dari batasannya, tapi aku berhasil memangkasnya menjadi 120 halaman) dan lalu masukan itu ke Dengeki Light Novel Award. Berkat beberapa keberuntungan yang luar biasa, aku berhasil menerima hadiah utamanya. Tapi keberuntunganku tidak berhenti di situ. Aku masih tidak bisa melupakan kebahagiaan dan kegembiraan yang kurasakan ketika editorku membaca <SAO> yang aku tulis tanpa berpikir panjang.

Aku juga merasa sedikit cemas. Itu karena ada banyak masalah dengan cerita ini yang bahkan akupun tidak bisa mendaftarkannya di sini. Alasan utamanya adalah keraguanku tentang “apakah ini benar-benar tak apa untuk mengambil semua yang aku tulis dan menerbitkannya?”

Tapi alasan di mana aku berhasil meraih keputusan untuk menerbitkan ini adalah karena waktunya sangat bagus: aku baru saja selesai menulisnya, orang-orang baru saja sadar atas online game, dan banyak terima kasih kepada Miki <cintanya pada pekerjaannya> Kazuma-san (aku kaget dengan bagaimana dia berhasil membaca naskahku dengan jadwalnya yang ketat). Aku tidak akan pernah bisa untuk mendapatkan cerita ini diterbitkan jika bukan untuk alasan ini. Tapi jika aku tidak menggunakan rangkaian keberuntungan dari berbagai kejadian aku tidak akan pernah menjadi seorang gamer…maksudku penulis! Itu adalah keputusan yang aku raih dan aku akhirnya bisa mendapatkan <Sword Art Online 1: Aincrad> diterbitkan.

Cerita ini adalah permulaan untukku, yang selalu menulis dengan tema “bukankah online game juga merupakan realitas lain?” Aku berharap aku bisa meraih akhir dari jalan ini dengan para pembaca semua.

Aku memanjatkan terima kasihku dengan tulus kepada Abec-san, yang berhasil mewarnai cerita ini dengan pola bagus yang tak terhitung jumlahnya dan menggambar karakter yang bertempur di sini dengan jelas meskipun latar dari ‘game fantasi dengan realitas sesungguhnya dari masa depan yang dekat’ yang sulit, dan juga untuk editorku Miki-san, yang benar-benar membaca masalah yang melanda drafku dan berhasil memberikan kehidupan baru ke cerita ini.

Aku juga mau berterima kasih kepada semua orang yang mendorongku sejak lama ketika membaca <Sword Art Online> di websiteku. Kalau itu bukan doronganmu, <Kawahara Reki> tidak akan pernah bisa keluar ke dunia ini, apalagi buku ini.

Dan akhirnya, aku memanjatkan terima kasih terbesarku kepada semua orang yang membaca buku ini hingga akhir!

28 Januari 2009, Kawahara Reki.


Sword Art Online – Chapter 25

Chapter 25


Udara disini adalah campuran berbagai macam bau.

Fakta bahwa aku masih hidup mengagetkanku.

Udara yang mengalir kedalam hidungku membawa banyak informasi. Yang pertama datang adalah bau menyengat disinfektan. Lalu datang bau dari pakaian yang dijemur di matahari, aroma manis buah-buahan, dan bau tubuhku sendiri.

Perlahan-lahan aku membuka mataku. Untuk sekejap, rasanya sinar putih nan kuat menusuk dalam-dalam ke pikiranku, jadi dengan cepat aku memejamkan lagi mataku.

Beberapa saat kemudian, dengan enggan, aku mencoba membuka mataku. Segelombang cahaya menari-nari di pupilku. Baru beberapa saat kemudian aku sadar ada banjir cairan yang menutupi mataku. Aku mengejapkan mata untuk menghilangkannya. Tapi cairan itu terus keluar. Ternyata mereka adalah airmata.

Aku tengah menangis. Mengapa? Ada perasaan nyeri yang dalam serta ganas, ditambah rasa kehilangan dalam hatiku. Suara-suara terus bergema dalam telingaku, seakan seseorang tengah memanggil-manggil namaku.

Aku menyipitkan mataku melawan cahaya nan kuat itu dan akhirnya berhasil menghilangkan airmataku.

Rasanya aku tengah berbaring di benda yang lembut. Aku dapat melihat sesuatu yang sama dengan papan-papan langit-langit di atasku. Ada beberapa panel halus yang diwarnai coklat muda, beberapa diantaranya berkilau lembut seakan ada cahaya di belakang mereka. Dari ujung pandanganku, aku bisa melihat sekotak ventilasi logam dimana udara dihembuskan keluar dengan suara rendah.

Sekotak AC…dengan kata lain, sebuah mesin. Bagaimana sesuatu seperti itu bisa ada disini? Tak ada tukang besi yang dapat membuat sebuah mesin tak peduli setinggi apapun status skill mereka. Jika apa yang kulihat benar-benar adalah sebuah mesin—maka tempat ini bukan—

Ini bukan Aincrad.

Aku membuka mataku lebar-lebar. Pikiranku sepenuhnya terbangun hanya dari selintas pikiran itu. Aku buru-buru membangkitkan tubuhku—

tapi tubuhku tak mau mendengarkanku sama sekali. Aku tak bisa menggunakan kekuatan apapun. Meski bahu kananku terangkat beberapa sentimeter, ia langsung kembali jatuh.

Hanya tangan kananku yang bisa digerakkan. Aku mengangkatnya ke atas tubuhku lalu membawanya ke hadapan mataku. Untuk sesaat Aku tak bisa percaya lengan kurus kering ini adalah punyaku. Tak mungkin aku bisa memegang sebilah pedang dengan lengan ini. saat aku memeriksa kulit putih nan sakit lebih dekat, aku dapat melihat ribuan helai bulu yang menyelimutinya. Aku bisa melihat vena biru di bawah kulit dan kerutan-kerutan di sendi-sendi. Semuanya terasa begitu menakutkan; Ini begitu nyata, begitu biologis sehingga terasa tak biasa.

Di dalam pergelanganku, ada sehelai selotip yang memegang jarum tetap di tempatnya, dimana jarum tersebut terhubung dengan selang panjang bagaikan digunakan untuk mengyuntikkan sesuatu. Mataku mengikuti selang tersebut dan tertumbuk pada kemasan bening yang digantungkan oleh sebatang tiang perak. Isi kemasan tersebut masih 2/3-nya dengan cairan jingga, yang menetes dengan kecepatan tetap.

Aku menggerakkan tangan kiriku dan mencoba merasakan lagi indra sentuhku. Sepertinya aku telanjang bulat dan berbaring di atas kasur yang terbuat dari material gel yang sangat padat. karena suhunya sedikit lebih rendah dari tubuhku, aku bisa merasakan dinginnya perlahan mengalir padaku. Tiba-tiba, sebuah ingatan menyembul dalam pikiranku; Aku pernah sekali melihat siaran berita dimana jenis kasur ini dikembangkan untuk pasien-pasien yang tak bisa bergerak. Ia memiliki kemampuan mencegah infeksi pada kulit dan mengurai bungan tubuh yang keluar.

Aku menerawangi sekelilingku. Ini kamar yang kecil. Temboknya sama putih tawarnya dengan langit-langit. Ada Jendela yang teramat sangat besar di kananku dengan sprei putih dibentang menghalanginya.

Aku tak bisa melihat pemandangan di luar, tapi aku dapat melihat sinar kuning matahari menyinari lurus menembus serat-seratnya, Sebuah troli beroda logam empat diparkir di kiri jauh kasur jel ini, dan sebuah keranjang rotan diletakkan diatasnya.

Sebuah buket bunga-bunga yang terlihat tawar berada di dalamnya, yang sepertinya merupakan sumber dari aroma manis ini. Lebih jauh lagi dari troli adalah sebuah pintu persegi panjang yang tertutup,

Berdasarkan semua info ini, Tempat ini seharusnya adalah ruang perawatan RS, dan aku satu-satunya yang berada disini.

Aku mengembalikan pandanganku pada tangan kananku yang terangkat dan tiba-tiba memikirkan sesuatu. Aku mengayunkan tangan kanan dengan telunjuk dan jempol saling menekan.

Tak terjadi apa-apa. Tiada efek suara maupun jendela menu. Aku mengayunkan lagi dengan sedikit lebih keras, lalu lagi dan lagi. Hasilnya selalu sama.

Jadi, ini benar-benar bukan SAO. Lalu apakah ini kenyataan virtual lainnya?

Tapi info yang membanjiri dari kelima indraku sudah berteriak padaku bahwa ada kemungkinan lain. Ini—adalah dunia nyata. Ini adalah dunia nyata yang kutinggalkan dua tahun lalu dan tak pernah kuharapkan untuk kulihat lagi.

Dunia nyata—Cukup lama aku merenungkan arti dibalik kata-kata sederhana ini. Untukku, dunia pedang dan pertempuran telah menjadi satu-satunya dunia nyataku untuk waktu yang lama. Aku masih tak bisa mempercayai bahwa dunia lain sudah tak lagi disana, bahwa aku sudah tak berada di dunia itu lagi.

Lalu, Apakah aku telah kembali? —Bahkan meski aku memikirkan itu, aku tak benar-benar senang atau apapun. Yang kurasakan hanyalah sedikit kebingungan dan rasa kehilangan.

apakah ini hadiah yang Kayaba bilang untuk menyelesaikan permainan? Aku telah jelas-jelas tewas dalam dunia itu dan tubuhku telah sepenuhnya dihapus. Aku telah menerima itu, Aku bahkan merasa puas dengan itu.

Ya—tak apa-apa bila aku menghilang saja seperti itu. Di cahaya nan terang tersebut, larut, terpencar, lalu meleleh bersama dengan bagian dunia lainnya, bersama dengannya—

“Ah…”

Secara tak sadar aku bersuara. Sebuah nyeri kuat menembus tenggorakan yang tak digunakan selama dua tahun. Tapi aku tak memedulikan itu sedikitpun. Aku membuka mataku lebar-lebar dan mengatakan satu kata saja, sebaris nama yang muncul di pikiranku.

“A…su…na…”

Asuna. Nyeri yang dirasakan hatiku bergejolak lagi. Asuna, istriku yang tercinta, yang menonton akhir dunia bersama denganku…

Apakah itu semua hanya mimpi…? Sebuah khayalan indah yang kulihat di dunia virtual…? Pikiran-pikiran yang memusingkan tiba-tiba muncul di kepalaku.

Tidak, dia benar-benar ada. Tak mungkin seluruh hari yang kita habiskan untuk tertawa, menangis dan tidur bersama hanya sebuah mimpi.

Kayaba telah mengatakan—“Selamat karena telah menyelsaikan permainan, Kirito-kun, Asuna-kun.” Dia jelas-jelas mengatakan itu. Jika dia telah memasukkanku kedalam daftar yang selamat, maka Asuna seharusnya juga kembali ke dunia ini.

Begitu aku terpikirkan soal ini, Cinta dan rinduku padanya mengalir deras dan menjalari diriku. Aku ingin menemuinya. Aku ingin menyentuh rambutnya. Aku ingin menciumnya. Aku ingin mendengar suaranya yang memanggil namaku.

Aku menegangkan seluruh otot di tubuhku dan mencoba bangkit. Hanya setelah aku menyadari bahwa kepalaku terikat. Aku mencari-cari dengan jemariku sebelum menemukan kunci sabuk di bawah daguku dan membukanya. Ada sesuatu yang berat di kepalaku. Aku menggunakan kedua tangan dan hampir saja tak bisa melepasnya.

Aku duduk lalu memandangi benda di tanganku. ia sebuah helm biru tua nan halus. Seutas kabel dengan warna sama menyembul keluar dari pelat panjang di bagian belakangnya dan terus memanjang hingga ke lantai. Itu adalah—

NervGear. Aku telah terjebak dalam dunia itu selama dua tahun karenanya. Kekuatannya telah dimatikan. Ingatan terakhirku tentangnya adalah bahwa ia adalah helm bersinar, tapi kini warnanya telah pudar. Beberapa telah terkelupas sehingga kau bisa melihat aloi logam yang menjadi bahannya.

Seluruh ingatan dari dunia lain dipegang didalamnya—Aku tiba-tiba dicengkram oleh pikiran ini dan mengelus-elus permukaannya.

Aku berfikir bahwa aku takkan pernah memakainya lagi. Tapi ia menjalankan perannya dengan sebaik-baiknya…

Aku menggumamkan ini dalam kepalaku sebelum menaruh helm diatas kasur. Hari-hari dimana aku bertarung bersamanya sudah merupakan masa lalu. Ada sesuatu yang lain yang perlu aku lakukan sekarang.

Aku tiba-tiba menyadari suara-suara di luar. Saat aku memfokuskan telingaku, aku dapat mendengar berbagai suara, seakan mereka bilang padaku bahwa pendengaranku sudah kembali seperti semula.

Aku jelas-jelas mendengar suara-suara orang yang berbicara dan berteriak. Aku mendengar suara-suara langkah kaki yang terburu-buru dan roda-roda kasur yang dipindahkan.

Tak ada cara untuk mengetahui apakah Asuna ada dalam RS ini. pemain-pemain SAO datang dari seluruh penjuru Jepang, jadi kecil kemungkinan dia disini. Tapi aku akan memulai pencarianku dari sini. Tak peduli seberapa lama waktunya, aku pasti akan menemukannya.

Aku menyingkap selimutku. Ada sejumlah kabel yang tersebar di tubuhku yang lemah. Mungkin mereka adalah elektroda yang ditaruh untuk melambatkan degenerasi otot-ototku. Aku berhasil menarik keluar semuanya. Seberkas LED jingga berkedip di panel yang terletak di ujung kasurku dan segema alarm nyaring menyala, tapi aku mengabaikan semua ini.

Aku menarik jarum tetes IV keluar dan akhirnya membebaskan tubuhku. Lalu aku menempatkan kakiku di lantai dan perlahan menguatkan diri sebagai usaha untuk bangkit berdiri. Tubuhku terangkat sedikit demi sedikit, tapi rasanya lututku bakal habis di menit berapapun dan ini membuatku tersenyum pahit; Status kekuatan manusia superku tak ada dimanapun untuk ditemukan.

Aku mencengkram tiang IV tetes sebagai penahan dan akhirnya berhasil berdiri. Saat memandangi sekeliling ruangan, aku menemukan gaun RS yang terlipat di baki yang sama dengan keranjang bunga-bunga lalu aku mengenakannya.

Setelah menyelesaikan gerakan-gerakan sederhana ini, nafasku sudah terengah-engah. Otot-otot yang tak kugunakan selama dua tahun sudah memprotes dengan nyerinya. Tapi aku tak bisa dengan begitu mudah mengeluh.

Cepatlah, cepatlah. Aku dapat mendengar senada suara yang membujukku untuk terus maju. Sekujur jiwaku merindukannya. Pertarunganku belum usai hingga aku mendapat Asuna—Yuuki Asuna dalam pelukanku.

Dengan cengkraman erat di tiang, bukan di pedang, aku menyenderkan tubuhku padanya dan mengambil langkah pertamaku menuju pintu.


Sword Art Online – Chapter 24

Chapter 24


Lalu saat aku sadar kembali, aku menemukan diriku di dunia yang sama sekali berbeda.

Disini, terbenamnya matahari membuat seluruh langit tampak terbakar.

Aku berdiri di lantai kristal yang tebal. Awan-awan jingga berlalu perlahan di bawah keramik yang transparan. Saat aku menengadahkan kepala, dapat kulihat sebentang langit yang dicelup matahari terbenam membentang sampai horizon. Seakan dibentangkan keluar, langit tak berujung memudar dari jingga terang, menjadi merah darah, lalu bayangan ungu . Aku juga bisa sayup-sayup mendengar angin yang bertiup.

Itu adalah cakram kristal kecil yang melayang diantara awan-awan di langit yang hampa; Disini aku berdiri di tepinya.

…Apa tempat ini? Tubuhku seharusnya menghilang setelah pecah berkeping-keping. Apakah aku masih di SAO…ataukah aku sudah tiba di kehidupan setelahnya?

Aku memeriksa tubuhku. Jaket bulu, sarung tangan panjang, dan seluruh perlengkapanku yang lainnya sama seperti sebelum aku tewas, kecuali semuanya menjadi agak-agak transparan. Dan bukan hanya perlengkapanku saja, bahkan bagian tubuhku yang terbuka pun disinari warna matahari terbenam seakan ia dibuat dari gelas semi tranparan.

Aku mengangkat tangan kananku dan mengayunkan satu jariku. Sebuah jendela muncul dengan efek suara yang biasanya. Oh, tempat ini masih dalam SAO.

Tapi jendela itu tak mengandung avatar maupun daftar menu. Sebuah layar kosong hanya menunjukkan pesan [Menyelesaikan Fase Akhir, 54% Selesai]. Saat aku tengah memandanginya, angka itu naik menjadi 55%. Awalnya kupikir pikiranku akan mati bersama dengan hancurnya tubuhku, tapi apa yang tengah terjadi disini?

Saat aku mengangkat bahu dan menutup jendela, tiba-tiba aku mendengar seberkas suara dibelakangku.

“Kirito…”

Ia bagaikan suara dari surga. Kejut menjalari tubuhku,

Kumohon, jangan jadikan ini hanya bayanganku saja—Aku memohon sambil berbalik perlahan.

Dia berdiri disana dengan langit terbakar di belakangnya.

Rambut panjangnya melambai lembut dalam angin. Tapi meski wajah senyum nan lembutnya dalam jangkauan lenganku, aku tak bisa bergerak sedikitpun.

Rasanya seakan dia akan menghilang bila pandanganku meninggalkannya bahkan untuk sedetik—Jadi aku terus menatapnya dalam sunyi. Dia juga semi-transparan, dan merupakan hal terindah di dunia. Dia berdiri di sana, berkilau dalam cahaya dari matahari yang terbenam.

Aku memaksakan diri menahan airmata dan berhasil membentuk segaris senyum. Dengan suara hampir berbisik, aku berkata: “Maaf, aku juga tewas…”

“…Dasar tolol.”

Airmata mengaliri wajahnya saat dia mengatakan ini dengan senyum. Aku membentangkan lengaku lebar-lebar dan dengan lembut memanggil namanya:

“Asuna…”

Aku memegangnya erat begitu dia melompat kedalam lenganku dan menangis. Aku bersumpah aku takkan melepaskannya lagi. Tak peduli apapun yang terjadi, aku takkan pernah melepaskannya lagi.

Setelah ciuman yang panjang, akhirnya kami bisa memisahkan wajah kami untuk saling memandang. Ada begitu banyak hal tentang pertarungan akhir yang ingin kuceritakan padanya, bahwa aku ingin meminta maaf padanya. Tapi aku merasa kata-kata tak diperlukan lagi. Malah, aku menggeser pandanganku pada langit tak berbatas dan membuka mulutku:

“Ini…Apa-apaan tempat ini?”

Asuna mengarahkan pandangannya kebawah dalam sunyi dan menunjuk dengan jarinya. Aku melihat ke arah itu.

Jauh di bawah tempat kami berada—Sesuatu melayang di langit. Ia berbentuk seperti kerucut dengan ujung terpotong. Ia terbuat dari berbagai lantai yang saling melewat. Begitu aku memusatkan mataku, aku bahkan bisa melihat gunung-gunung kecil, hutan-hutan, danau-danau, dan kota-kota.

“Aincrad…”

Asuna mengangguk begitu aku menggumamkan ini. Tak salah lagi. Itu Aincrad. Benteng raksasa terbang yang melayari langit tak berbatas. Kami habiskan 2 tahun, bertarung dalam dunia pedang dan pertempuran itu, namun kini ia berada di bawah kami.

Aku telah melihat pemandangan di luar Aincrad sebelum aku datang ke dunia ini dalam info tentang SAO. Tapi ini kali ini pertama aku melihatnya di luar dengan mataku sendiri. Kutahan napasku begitu sebuah perasaan tak tergambarkan menyergapku.

Benteng besi itu—tengah diruntuhkan,

bahkan ketika kami menonton dalam sunyi, satu bagian dari lantai terbawah tersebar menjadi kepingan yang tak terhitung. Begitu aku memusatkan telingaku untuk mendengarkan, aku masih bisa mendengar suara gemuruh yang menyebar diantara angin.

“Ah….”

Asuna menjerit pelan. Sebagian besar dari lantai bawah terpotong, dan banyak bangunan, pohon dan sungai yang tak terhitung jumlahnya jatuh ke bawah dan menghilang kedalam lautan awan. Rumah kami ada di sekitar daerah itu. Aku merasakan kepingan kesedihan manis-asam mengiris dadaku tiap kali ada lantai benteng yang berisi ingatan seharga dua tahun menghilang.

Aku bertekuk, duduk di ujung lantai dengan Asuna dalam pelukanku.

Aku merasakan tenang yang aneh. Meski aku tak tahu apa yang terjadi pada kami atau apa yang akan terjadi sekarang, aku tak merasakan sedikitpun ketegangan. Aku telah menyelesaikan apa yang harus kulakukan, dan untuk itu aku telah kehilangan hidup virtualku dan kini tengah menyaksikan akhir dunia ini dengan gadis yang kucintai. Ini sudah cukup—Hatiku sudah puas.

Asuna pasti merasakan hal yang sama. dalam pelukanku, dia menyaksikan Aincrad runtuh dengan mata setengah terbuka. Dengan lembut, aku mengelus rambutnya.

“Pemandangan yang luar biasa.”

Tiba-tiba aku bisa mendengar seberkas suara dibelakang kami. Saat kami berputar ke kanan, kami melihat seorang lelaki berdiri disana.

Dia Kayaba Akihiko.

Dia muncul bukan sebagai Heathcliff, si paladin merah, tapi dalam wujud dia sebenarnya sebagai pengembang SAO. Dia mengenakan kemeja putih dengan dasi dan tutupan putih di bagian atas. Hanya dua mata logam di wajah tajamnya terasa persis sama. Tapi kedua mata itu berisi cahaya lembut saat memandangi benteng yang menghilang. Tubuhnya juga semi-transparan seperti kami.

Meski kami telah bertarung hingga tewas dengan orang ini hanya beberapa menit sebelumnya, ketenanganku terus bertahan setelah menitnya, Mungkin kami telah meninggalkan seluruh rasa marah dan benci kami di Aincrad sebelum kami datang kesini. Aku memandangi Kayaba dan Benteng bergantian.

“Apa yang terjadi sebenarnya?”

“Mungkin kau bisa menyebutnya…perenderan metaforis.”

Suara Kayaba juga agak damai.

“Kini kerangka utama SAO yang berada di lantai basemen kelima dari Markas Argus tengah menghapus seluruh data dari memory penyimpanan. Dalam 10 menit berikutnya, dunia ini akan sepenuhnya terhapus.”

“Bagaimana dengan orang-orang yang hidup disana…Apa yang terjadi pada mereka?”

Asuna tiba-tiba bertanya.

“Tak usah khawatir. beberapa saat sebelumnya—“

Kayaba menggerakkan tangan kanannya dan melirik jendela yang muncul,

“seluruh 6.147 pemain yang tersisa telah berhasil keluar.”

Ini berarti Klein, Agil, dan seluruh orang lainnya yang aku kenal selama dua tahun ini telah berhasil kembali dengan selamat ke sisi lain.

Dengan erat, kupejamkan mataku dan membiarkan air mataku mengalir sebelum bertanya:

“…Bagaimana dengan mereka yang mati? Kita berdua sudah tewas, namun kami terus ada disini. Bukankah itu berarti kau bisa mengembalikan 4.000 yang tewas ke dunia asal mereka juga?”

Wajah Kayaba tak berubah. Dia menutup jendela, memasukkan tangannya ke saku, lalu berkata:

“Nyawa tak bisa disembuhkan dengan begitu mudah. Kesadaran mereka takkan pernah kembali. Yang mati akan menghilang—Fakta ini terus benar di dunia manapun. Aku menciptakan tempat ini hanya karena aku ingin berbincang dengan kalian berdua—untuk satu kali terakhir.”

Apa itu sesuatu yang bisa dikatakan seseorang yang telah membunuh 4.000 orang?

Meski aku berpikir begitu, aku tak merasakan amarah apapun untuk beberapa alasan yang aneh. Malah, satu pertanyaan lainnnya menyembul di pikiranku. Ini pertanyaan dasar yang seluruh pemain, tidak, seluruh orang yang mengetahui perkara ini akan tanyakan.

“mengapa—kau lakukan ini…?”

Aku bisa merasakan Kayaba tersenyum pahit. Setelah keheningan panjang, akhirnya di berbicara:

“Mengapa—Aku sudah lama lupa akan itu . Mengapa aku melakukannya? Sejak aku menemukan bahwa sebuah sistem dive sempurna tengah diciptakan—tidak, bahkan sebelumnya, aku telah ingin membangun benteng itu, sebuah tempat yang melewati batas-batas yang dipasang di dunia nyata. Lalu, dalam saat-saat terakhir itu…Aku melihat bahkan aturan-aturan duniaku juga telah dilewati…”

Kayaba pertama-tama memutar mata damainya padaku, lalu langsung menggeser mereka ke tempat yang jauh.

Tutupan Kayaba dan rambut Asuna berkibar oleh angin yang semakin kuat. Setengah benteng sudah hancur. Algade, sebidang kota yang dipenuh kenanganku, tengah disebarkan kedalam angin dan diserap oleh awan-awan.

Kayaba melanjutkan bicaranya:

“Bukankah kita semua punya banyak mimpi sejak masa kanak-kanak? Aku sudah lupa berapa usiaku saat bayangan sebuah benteng logam yang melayang di langit mulai memesonaku….itu adalah pemandangan yang takkan pudar dari pikiranku tak peduli seberapa lama waktu berlalu. Begitu aku makin dewasa, gambar itu menjadi semakin dan semakin nyata, lebih dan lebih menyeruak. Meninggalkan dunia nyata dan terbang langsung ke Benteng ini…itu adalah mimpiku satu-satunya dalam waktu lama. Kirito-kun, Kau tahu, aku masih percaya,—bahwa entah di dunia mana, benteng ini benar-benar ada—.”

Tiba-tiba, aku merasa seakan aku telah dilahirkan di dunia itu, dimana aku bermimpi menjadi seorang ksatria berpedang. Pada suatu hari, Sang lelaki akan bertemu seorang gadis dengan mata coklat hazelnut. Keduanya akan jatuh cinta, akhirnya menikah, dan akan hidup bahagia selamanya dalam sebuah rumah kecil di tengah-tengah seladang hutan—

“Ya…itu pasti indah sekali.”

Gumamku. Asuna juga mengangguk dalam pelukanku.

Kesunyian kembala menyapa kami. Aku membuang pandanganku pada kejauhan dan melihat bahwa bagian lain dari benteng mulai runtuh. Aku dapat melihat lautan awan tak berbatas dan langit merah yang tengah dimakan sebuah cahaya putih di kejauhan. erosi sudah dimulai di semua arah dan perlahan-lahan menuju kesini.

“Ah, aku lupa mengatakan ini, Kirito-kun, Asuna-kun…Selamat karena telah menyelesaikan permainannya.”

Kami menengadah pada Kayaba saat dia mengatakan ini. Dia menunduk, melihat kami dengan ekspresi tenang di wajahnya.

“Baiklah—Aku harus pergi sekarang.”

Angin berhembus dan tampak menyapu jauh sosoknya—begitu kami sadar, dia tak lagi berada dalam pandangan kami. Hanya tampak matahari merah yang terbenam yang terus menyinari menembus pelat kristal. Sekali lagi, Kami sendirian.

Aku menduga-duga kemana dia pergi? Apakah dia kembali ke dunia nyata?

Tidak—dia takkan begitu. Dia akan menghapus pikirannya sendiri dan pergi untuk mencari Aincrad yang sebenarnya entah di dunia mana.

Sekarang, hanya bagian atas dari benteng yang tersisa. lantai 76 yang tak pernah sempat kami lihat mulai runtuh. Tirai cahaya yang menghapus dunia ini perlahan mencapai kami. Begitu aura yang bergelombang menyentuh awan-awan dan langit, mereka menghilang dan kembali pada ketiadaan.

Aku dapat melihat istana merah dan puncak-puncaknya di lantai tertinggi Aincrad. Jika permainan berlanjut sebagaimana yang direncanakan, kami akan bertarung disana melawan boss terakhir, Heathcliff. Bahkan meski dasar-dasar lantai teratas menghilang, istana tak bertuan terus melayang di udara seakan hendak melawan takdirnya. Istana merah yang tersisa di tengah-tengah langit jingga sepertinya merupakan hati dari benteng melayang tersebut.

Pada akhirnya, kehancuran juga menelan istana merah. Ia dibelah-belah, dimulai dari bawah dan naik ke atas, lalu pecah kedalam kepingan-kepingan tak terhitung sebelum menghilang diantara awan-awan. Menara tertinggi menghilang hampir di waktu yang bersamaan dengan saat tirai cahaya menelan sekelilingnya. Benteng raksasa Aincrad telah sepenuhnya dihancurkan, dan yang tersisa di dunia ini hanyalah beberapa awan dan landasan kecil dimana aku dan Asuna duduk.

Kemungkinan kami tak punya banyak waktu tersisa. Kami menggunakan rentang waktu pendek yang diberikan Kayaba pada kami. Dengan hancurnya dunia ini, NervGear akan melaksanakan fungsi terakhirnya dan menghapus apa yang tersisa dari kami.

Aku menempatkan tanganku pada pipi Asuna dan perlahan menekankan bibirku pada miliknya. Ini adalah ciuman terakhir kami. Aku hendak menggunakan tiap detik-detik terakhir dan mengukir sosoknya pada jiwaku,

“Sepertinya ini adalah selamat tinggal…”

Asuna menggelengkan kepalanya.

“Tidak, ini bukan. Kita akan menghilang bersama-sama. jadi, kita akan bersama selamanya.”

Dia berbisik dengan suara yang jelas sebelum berputar dalam pelukanku untuk menatap lurus padaku. lalu dia membengkokkan kepalanya sedikit dan tersenyum

“Hei, bisakah kau mengatakan namamu padaku, Kirito? Nama aslimu?”

Pertama-tama aku tak mengerti. tapi aku lalu sadar maksud dia adalah namaku di dunia lain yang kutinggalkan 2 tahun lalu.

Rasanya seakan hari-hari dimana aku hidup dengan nama dan hidup lain adalah dongeng dari dunia yang teramat jauh. AKu mengatakan namaku yang mengambang dari dasar ingatanku, entah mengapa terasa sangat emosional.

“Kirigaya…Kirigaya Kazuto. Seharusnya aku berumur 16 bulan lalu.”

Pada saat itu, aku merasa waktu mulai bergerak untuk diriku yang lain. Pikiran Kazuto, yang telah terkubur dalam-dalam pada diri Kirito sang ksatria berpedang, mulai muncul perlahan. Aku merasakan pelindung keras yang melingkupi diriku dalam dunia ini berjatuhan satu demi satu.

“Kirigaya…Kazuto….”

Asuna menyuarakan namaku, memusatkan diri pada tiap suku kata, lalu tertawa dengan wajah yang sedikit kaget.

“Jadi kamu lebih muda dariku. Aku…Yuuki….Asuna. Berumur 17 tahun ini.”

Yuuki… Asuna. Yuuki Asuna. Aku terus mengulang-ulang kelima suku kata ini dalam pikiranku. Tiba-tiba, aku menyadari air mataku telah mengaliri pipiku.

Perasaanku akhirnya mulai bergeser di tengah terbenamnya matahari yang terus berjalan. Sebuah rasa nyeri menjalari sekujur diriku, air mata mengalir bebas menuruni pipi. Aku merasakan segumpal sumbatan di tenggorokanku, Mengepalkan kedua tangan, lalu mulai menangis keras bagaikan seorang anak kecil.

“Maafkan aku…maaf…Aku berjanji…untuk mengirimkanmu….kembali…ke sisi lainnya…tapi aku…”

Aku tak dapat melanjutkannya. Pada akhirnya, aku tak bisa menyelamatkan orang yang paling berharga bagiku. Karena kelemahanku sendiri, Jalan yang pernah begitu cerah dan berkilauan kini tertutup. Penyesalanku terbentuk menjadi air mataku yang mengalir tanpa akhir dari mataku.

“Tak apa-apa… Tak apa-apa…”

Asuna juga menangis. Air matanya yang berkilau mengalir tanpa akhir bagaikan permata-permata kecil sebelum menguap.

“Aku benar-benar bahagia. Waktu aku bertemu Kazuto, dan hidup bersama, adalah waktu yang paling menyenangkan dari seluruh hidupku. Terima kasih…dan aku mencintaimu…”

Akhir dunia tepat berada di hadapan kami. Seluruh Benteng besi dan lautan awan tak berbatas dihapus oleh cahaya nan terang itu, meninggalkan hanya kami berdua di belakang.

Aku dan Asuna saling berpelukan dengan erat, menunggu-nunggu saat-saat terakhir.

Rasanya seakan perasaan kami dimurnikan oleh cahaya itu. Yang tersisa dalam diriku hanyalah cintaku untuk Asuna. Aku terus memanggil namanya seakan semuanya tengah diurai dan dipencarkan.

Cahaya memenuhi pandanganku. Semuanya dilingkupi oleh tirai putih murni dan menghilang setelah menjadi partikel-partikel cahaya nan mungil. Senyum Asuna bercampur dalam cahaya yang sangat kuat penelan dunia ini.

—Aku mencintaimu…Aku mencintaimu—

Suaranya bergema bagaikan dentang manis sebutir lonceng saat kesadaran terakhirku musnah. Garis terakhir yang memisahkan kami menghilang dan kami menjadi satu.

Jiwa kami saling menyerap, bergabung, lalu berpencar.

Akhirnya, kami berpisah.


Sword Art Online – Chapter 23

Chapter 23


 

Kayaba mengerutkan bibirnya dan membentangkan lengannya lebar-lebar.

“Hal ini sangat mengejutkan. Bukankah ini bagaikan skenario dari RPG konsol? Seharusnya membebaskan diri dari kelumpuhan adalah hal yang mustahil…Jadi hal seperti ini benar-benar bisa terjadi…”

Tapi suaranya tak terekam dalam pikiranku. Rasanya seakan semua perasaanku terbakar habis, seakan aku terjatuh kedalam jurang tak berdasar, ditelan keputusasaan.

Aku tidak lagi mempunyai alasan untuk melakukan apapun.

Entah itu bertarung dalam dunia ini, kembali ke dunia nyata, atau bahkan terus menjalani hidup, semuanya telah kehilangan makna. Seharusnya dulu aku bunuh diri saat ketidakmampuanku dan kelemahanku mengakibatkan kematian teman-teman seguild. Jika aku melakukannya, maka aku takkan pernah bertemu Asuna, maupun melakukan kesalahan yang sama lagi.

Mencegah Asuna bunuh diri—Betapa bodoh dan cerobohnya perkataan itu. Aku tak mengerti apapun sama-sekali. Dengan begitu saja—dengan hatiku yang penuh kehampaan, bagaimana mungkin aku bisa terus hidup…

Aku menatap rapier Asuna dengan hampa, sinarnya masih terpancar meski terbaring di tanah. Aku mencapainya dengan tangan kiriku dan menggenggamnya.

Aku berusaha mencari sebekas keberadaan Asuna di senjata tipis dan gesit itu, tapi tidak ada apa-apa. Tak ada yang tertinggal di permukaan menyilaukan tak berwajah yang bisa jadi tanda keberadaan pemiliknya. Dengan pedangku di tangan kanan dan pedang Asuna di tangan kiri, aku perlahan bangkit. Tiada yang aku pedulikan lagi. Aku hanya ingin pergi mencarinya berbekal kenangan waktu singkat yang kami bagi bersama.

Kupikir aku mendengar seseorang memanggil dari belakang.

Tapi aku tak berhenti dan terus berjalan menuju Kayaba dengan pedang kananku terangkat. Aku mengambil beberapa langkah gontai mendekatinya dan menusuk dengan pedangku.

Kayaba menatap kasihan pada gerakanku, yang tak dapat dibilang sebuah jurus maupun serangan—dia dengan mudahnya menangkis pedangku dengan tamengnya dan menerbangkannya, dan pedang panjang di tangan kanannnya menusuk, menerobos dadaku.

Aku menatap tanpa rasa pada batang logam yang berkilau, yang terkubur dalam di tubuhku sendiri. Pikiranku tak lagi memikirkan apa-apa. Yang tersisa hanyalah kesadaran hampa bahwa segalanya telah berakhir.

Dari ujung pandanganku, aku bisa melihat batang HP-ku berkurang perlahan. Aku tak tahu apakah ini kelanjutan dari rasaku yang semakin tajam karena pertarungan, tapi rasanya aku bisa melihat tiap titik menghilang. Aku memejamkan mata, berharap gambar senyum Asuna dapat mengemuka begitu pikiranku semakin kosong.

Tapi meski aku menutup mataku, batang HP tetap tak menghilang. Ia berkedip merah dan mengecil dengan laju tak berperikemanusiaan. aku merasa seakan tuhan bernama sistem ini, yang telah menoleransi keberadaanku hingga saat ini, tengah menantikan saat terakhir ini. Hanya 10 titik untuk dihabiskan, sekarang lima titik, sekarang—

lalu, tiba-tiba aku merasakan sebuah kemarahan yang tak pernah kualami sebelumnya.

Adalah si keparat ini yang telah membunuh Asuna. Kayaba sang pencipta hanyalah sebagian darinya. Yang merobek-robek tubuh Asuna dan menghancurkan rohnya, adalah keberadaan yang mengelilingiku sekarang ini—keinginan sistem itu sendiri, Tuhan kematian digital yang mengejek kebodohan pemain-pemain dan mengayunkan sabitnya tanpa ampun—

Kita ini sebenarnya apa? Apa kami cuma sekumpulan boneka tolol yang dikendalikan benang-benang yang takkan terputus dari sistem SAO?

Batang HP-ku menghilang sempurna seakan mengejek kemarahanku. Sebuah pesan ungu muncul dalam sudut pandangku: [Kau Tewas]. Itu perintah dari Tuhan untuk mati.

Sebuah rasa dingin beres merasuki tubuhku. Indraku mati rasa. Aku merasakan blok kode yang tak terhitung di buka, memutus, dan menghancurkan sekujur tubuhku. Rasa dingin ini naik ke leherku dan kedalam kepalaku. Sentuhan, suara, pandangan, semuanya jadi kabur. Sekujur tubuhku mulai melarut—menjadi kepingan-kepingan poligon—sebelum memencar ke segala arah—

Kau pikir aku akan biarkan itu terjadi?

Aku membuka mataku lebar-lebar. Aku bisa melihat. Aku masih bisa melihat. Aku masih bisa melihat wajah Kayaba, yang pedangnya menerobos dalam ke dadaku, dan wajah terkejut padanya.

Mungkin indraku yang menajam kembali, dan kematian avatarku, yang biasanya terjadi dalam sesaat, terasa bagaikan melambat. Garis luar tubuhku masih kabur, dan partikel-partikel cahaya masih tercerabut dan menghilang disini dan disana. Tapi aku masih ada. Aku masih hidup.

“Hiiiiyaaaa!”

Aku menjerit sekuat tenaga. Aku menjerit dan melawan. Melawan sistem, sang tuhan nan mutlak. Hanya untuk menyelamatkanku, Asuna yang pemalu dan manja telah melepaskan kelumpuhan tak tersembuhkan dengan kekuatan keinginannya dan melemparkan dirinya pada serangan yang mustahil ditahan. Bagaimana aku bisa jatuh sekarang tanpa melakukan apa-apa. Aku tak bisa jatuh sekarang, tidak boleh. bahkan bila aku tak bisa menghindari kematian—Aku harus—setidaknya—

Aku mengeraskan genggaman tangan kiriku. Aku mengambil kembali indraku seakan menarik mereka kembali dengan seutas benang. Rasa memegang sesuatu di tangan kiriku kembali. Rapier Asuna—aku bisa merasakan semangat yang dimilikinya. Aku bisa mendengar dia bilang padaku agar aku tabah.

Perlahan, Lengan kiriku mulai bergerak. Bentuknya tengah mengabur dan beberapa kepingannya terlepas dengan gerakan sekecil apapun. Tapi ia tak berhenti. Sedikit demi sedikit, ia memakan jiwaku untuk terangkat. Mungkin inilah harga dari perlawananku yang keras kepala. karena nyeri tak terperi menjalari tubuhku. Tapi aku mengeraskan gigitan dan terus bergerak. jarak yang hanya 10 cm terasa begitu jauh. Tubuhku terasa seakan dibekukan. Hanya lengan kiriku yang masih memiliki rasa, namun rasa dingin dengan cepat menyelimutinya juga. Sekujur tubuhku sudah bagai patung es dengan kepingan-kepingannya yang terus lepas.

Tapi pada akhirnya, rapier perak itu mencapai pusat dada Kayaba. Kayaba tak bergerak. wajah terkejutnya sudah menghilang—sebuah senyum lembut dan damai menggantikan tempatnya. Lenganku menghilangkan jarak yang tersisa, setengah oleh semangat, dan setengah digerakkan oleh kekuatan tak terjelaskan. Kayaba menutup matanya dan menerima hantaman itu bersamaan dengan menerobosnya rapier ke tubuhnya tanpa suara. Batang HP-nya juga mengilang.

Untuk sesaat, kami hanya berdiri disana, dengan pedang yang menusuk tubuh satu sama lain. Aku menggunakan kekuatan yang tersisa untuk memaksa kepalaku menengadah dan melihat ke langit.

Apa ini—cukup….?

Meski aku tak bisa mendengar jawabannya. Aku bisa merasakan sedikit kehangatan menyelimuti tangan kiriku. Akhirnya aku melepas tubuhku, yang hendak pecah-terpencar sepenuhnya.

Begitu pikiranku tenggelam lebih dalam kedalam kegelapan, aku bisa merasakan tubuhku dan tubuh Kayaba pecah menjadi ribuan kepingan di saat bersamaan. Suara biasa dari dua benda yang dihancurkan bergema dan saling bergaung. Begitu semuanya semakin dan semakin tertarik dalam laju yang luar biasa, Aku bisa mendengar suara-suara lemah yang memanggil namaku. Aku pikir itu pasti suara Klein dan Agil. Lalu, pada saat ini, suara tak berperasaan dari sistem mengumumkan—

Permainan telah diselesaikan— Permainan telah diselesaikan— Permainan…..


Sword Art Online – Chapter 22

Chapter 22


Pertarungan berlanjut selama sejam

Rasanya bagai selamanya telah berlalu sebelum pertarungan akhirnya selesai. Saat tubuh raksasa monster raja pecah menjadi serpihan yang tak terhitung, tiada satupun yang memiliki energi untuk bergembira. Semuanya entah terduduk lemas di lantai obsidian atau terbaring sempurna dengan napas terengah-engah.

Apa ini—selesai…?

Ya—ini selesai—

Setelah kami bertukar pikiran itu, rasanya «sambungan» antara aku dan Asuna juga putus. Kelelahan tiba-tiba menggelayuti tubuhku dan aku berlutut ke lantai. Aku dan Asuna lalu duduk dengan dengan punggung saling bersender, dan merasa seakan kami takkan mampu melakukan apa-apa untuk beberapa saat. Kami berdua masih hidup—tapi bahkan ketika aku memikirkan ini, aku tak bisa begitu senang dengan keadaan. Terlalu banyak yang tewas. Setelah 3 kematian pertama di awal pertempuran, efek suara suram dari pecahnya orang terus bergema dengan kecepatan tetap dan aku memaksa diriku berhenti menghitung setelah yang keenam.

“Berapa banyak —yang tewas…?

Klein, yang duduk di kiriku, bertanya dengan suara berdenging. Agil yang terlentang di lantai di sebelahnya dengan lengan dan kaki tersebar keluar, juga menghadap kesini.

Aku mengayunkan tangan kananku untuk membuka peta dan lalu menghitung titik-titik hijau di sana. Aku menguranginya dengan jumlah orang yang hadir saat kami pertamakali berangkat.

“—14 tewas.”

Aku tak dapat mempercayai angka ini meski aku telah menghitungnya sendiri.

Mereka semua berlevel tinggi, ksatria ahli yang telah mengalami pertempuran yang tak terhitung. Bahkan jika kami tak bisa kabur atau sembuh seketika, kami seharusnya masih bisa menghindari tewasnya begitu banyak orang jika kami bertarung dengan menempatkan keselamatan terlebih dahulu—itulah yang kami semua pikir, tapi—

“…Mustahil…”

Suara Agil tak menandakan keceriaannya yang biasa. Sebuah kesuraman yang menjatuhkan jiwa menekan tengkuk orang-orang yang selamat.

Kami hanya tiga perempat jalan kesana—masih ada 25 lantai yang masih harus dibereskan. Tapi meski ada ribuan pemain disini, hanya beberapa ratus yang masih serius untuk menyelesaikan permainan. Jika tiap lantai menghasilkan korban sebanyak yang ini, maka sangat mungkin—hanya satu orang yang akan menghadapi raja terakhir.

Jika itu yang terjadi, yang terakhir berdiri mungkin adalah orang itu…

Aku menggeser pandanganku lebih jauh kedalam ruangan. Diantara semua orang yang duduk di lantai, sebuah sosok berbaju merah terus berdiri tegak. Orang itu adalah Heathcliff.

Tentu saja dia tidak tak tersayat. Saat aku memusatkan diri padanya, kursor muncul untuk menunjukkan HP-nya, dan aku dapat mengatakan dia telah kena beberapa hantaman. Dia telah menahan sabit tulang itu, yang aku dan Asuna harus bersusah payah menahannya, sendirian hingga saat terakhir. Takkan aneh bila dia runtuh karena kelelahan, terlepas dari HP-nya.

Tapi aku tak bisa merasakan tanda-tanda kelelahan sedikitpun dari sosok tenangnya. Ini ketahanan yang sulit dipercaya. Ini bagaikan—dia bagaikan sebuah mesin bertarung…

karena pikiranku masih melayang-layang karena kelelahan, aku terus menatap sisi dari wajah Heathcliff. ekspresi sang legenda tetap tenang. Dia dengan hening memandangi pada anggota-anggota KoB dan pemain-pemain lainnya. Matanya hangat dan penuh kasih sayang—seakan—

Seakan dia tengah memandangi segerombolan tikus putih yang bermain namun tak akan bisa keluar dari kandangnya.

Tepat saat itu, kurasakan sebuah getaran merambat ke sekujur tubuhku.

Pikiranku jernih seketika. tubuhku menjadi dingin, mulai dari ujung jemari, menyebar ke segala arah hingga pusat otakku. Ini firasat nan aneh. Fikiran mustahil mulai mengakar di pikiranku bagai sebuah benih dan kecurigaan tumbuh darinya.

Ekspresi di mata Heathcliff, ketenangan yang ditunjukkannya, bukan mata yang menenangkan sahabat-sahabatnya yang terluka. dia tak berdiri di tingkat yang sama dengan kami. Wajahnya tengah memberikan pengampunan dari sebuah tempat nan jauh di atas kami—ini wajah seorang dewa…

Kufikirkan mengenai kecepatan reaksi tak manusiawi yang Heathcliff tunjukkan saat duel kami. Ia jauh melebihi kecepatan manusia. Tidak, aku salah soal itu; ia jauh melebihi batas yang diset SAO untuk para pemainnya.

Tambahkan kelakuannya yang biasa di atas itu: Ia seorang pemimpin dari guild terkuat, namun dia tak pernah memberikan perintah apapun dan hanya menonton pemain lainnya mengurus segala hal. Mungkin itu bukan karena dia mempercayai bawahannya—mungkin dia menahan-nahan dirinya karena dia tahu hal-hal yang tak diketahui pemain-pemain biasa.

Dia adalah semacam makhluk yang tak terikat aturan-aturan permainan kematian ini. Tapi dia bukanlah seorang NPC. Tak mungkin sebuah program dapat membuat wajah yang begitu penuh ampunan.

Jika dia bukan NPC maupun pemain biasa, maka hanya ada satu kemungkinan tersisa. Tapi bagaimana caranya aku membuktikan ini? Tak ada caranya untuk itu… tidak satupun.

Tidak, ada satu cara. Cara yang hanya bisa kucoba disini sekarang juga.

Aku melihat batang HP Heathcliff. Ia telah banyak berkurang dari pertarungan keras ini. Tapi HPnya tak berkurang hingga ke setengahnya. Ia hanya sedikit, sedikit diambang daerah biru.

Tak ada yang pernah melihat HP orang ini jatuh ke daerah kuning. Ia memiliki pertahanan luar biasa yang tak dapat dibandingkan dengan seorangpun. Saat dia bertarung denganku, wajahnya berubah saat HPnya mendekati titik tengah. Itu bukan rasa takut akan berubahnya HP-nya menjadi kuning.

Itu adalah—kemungkinan besar—

Aku perlahan mengeraskan genggaman pada pedang di tangan kananku. Aku menarik kaki kananku ke belakang dengan gerakan sekecil mungkin. Kubengkokkan pinggang kebelakang sedikit dan mengambil kuda-kuda rendah. Heathcliff tak menyadari apapun gerakanku. Pandangan hangatnya tengah diarahkan hanya pada anggota guildnya yang kelelahan.

Jika tebakanku salah, aku akan dilabeli kriminal dan akan dihukum tanpa ampun. Jika itu yang terjadi…maafkan aku…

Aku melirik Asuna yang duduk di sebelahku. Dia menengadahkan kepalanya di saat yang bersamaan dan mata kami bertemu.

“Kirito…?”

Sebuah wajah terkejut menggelayuti Asuna, dan mulutnya menganga tak bersuara. Tapi saat itu, kaki kananku sudah menendang tanah kebelakang.

ada sekitar 10 meter antara aku dan Hethcliff. Aku melesat menuju dia dengan kecepatan penuh dengan tubuhku hampir menyentuh tanah dan mencapainya seketika. Lalu aku memutar pedangku dan menusuk ke atas. Ini adalah skill dasar pedang satu tangan <<Rage Spike>>. karena ini skill lemah, ini seharusnya tak membunuh Heathcliff meski membuat hantaman kritis. Tapi jika tebakanku benar—

Pedang menusuk masuk dari kiri, meninggalkan seberkas cahaya biru nan terang. Heatcliff bereaksi dengan kecepatan yang mengejutkan dan ekspresi terkejut nampak di wajahnya. Dia langsung mengangkat tamengnya untuk menahan.

Tapi aku sudah melihatnya melakukan gerakan itu berulang kali selama pertarungan kami dan aku mengingatnya dengan jelas. Pedangku larut menjadi seberkas cahaya, mengubah arah di tengah jalan, dan menggesek ujung tamengnya sebelum terus menusuk menuju dadanya.

Tapi tepat sebelum pedang menghantamnya, ia dihentikan tembok tak terlihat. Sebuah dentuman kuat menjalar melalui lenganku. Seberkas percikan cahaya ungu berkilat dan sebuah pesan dengan warna sama muncul—sebuah pesan sistem muncul diantara kami.

[Objek Abadi]. Ini bukan sebaris status yang dapat dimiliki makhluk lemah seperti kami, para pemain. Apa yang ditakutkan Heathcliff selama pertarungan itu pasti adalah tersingkapnya pengaman dewa ini pada semuanya.

“Kirito, apa yang kau—“

Asuna yang berteriak karena terkejut pada serangan tiba-tibaku dan berlari setelahku, tiba-tiba berhenti dan terpaku di tempat setelah melihat pesan itu. Aku, Heathcliff, Klein dan seluruh pemain lainnya di sekitar kami juga terpaku sempurna. Pesan sistem perlahan memudar dalam kebekuan ini.

Kurendahkan pedangku dan melompat ke belakang sedikit, memperlebar jarak antara aku dan Heathcliff. Asuna mengambil beberapa langkah ke depan dan berdiri di sebelahku.

“Keabadian yang dianugrahkan sistem—bagaimana ini mungkin—Pemimpin guild…?”

Heathcliff tak merespon bahkan setelah mendengar suara bingung Asuna. Dia hanya menatapku dengan wajah penuh amarah. Dengan kedua pedang di tanganku, aku membuka mulutku dan berkata:

“Inilah kebenaran dibalik legenda. HP-nya dilindungi sistem dan takkan jatuh ke dalam daerah kuning tak peduli apa yang terjadi padanya. Status keabadian—selain NPC, hanya admin sistem yang bisa memilikinya. Tapi permainan ini tak memiliki admin satupun, kecuali mungkin satu orang…”

Aku berhenti berbicara di titik ini dan menatap ke atas ke langit.

“…Aku selalu berfikir setelah kedatanganku di dunia ini…dimana sih dia melihat kami saat dia memanipulasi dunia ini. Tapi aku lupa satu kebenaran sederhana, yang bahkan seorang anak kecilpun seharusnya tahu.”

Aku menatap lurus pada si paladin merah dan melanjutkan:

“<<Tak ada yang lebih membosankan selain menonton orang lain memainkan permainan>>. Bukankah begitu?…..Kayaba Akihiko?”

Ada keheningan yang menyentak, seakan semuanya baru saja membeku.

Heathcliff tengah menatapku dengan wajah tanpa emosi. Pemain-pemain di sekitar kami tak bergerak bahkan satu ototpun. Tidak, lebih pas kalau dibilang mereka tak dapat bergerak.

Asuna mengambil satu langkah maju dari sisiku. matanya tak mengandung sedikitpun emosi, seakan mereka kehampaan tak berdasar. Dia membuka mulutnya sedikit dan berbicara dengan suara kering dan lirih hampir tak terdengar.

“Pemimpin….apa ini….benar?”

Heathcliff mengabaikan pertanyaannya. dia malah membengkokkan kepalanya sedikit dan menanyaiku:

“..Untuk sekedar referensi, bisakah kau menceritakan padaku bagaimana kau bisa tahu?”

“…Pertama kali aku merasa sesuatu tak beres adalah saat pertarungan kita, karena kecepatanmu pada saat terakhir itu terlalu cepat, itu saja.”

“Seperti yang sudah kuduga. Itu adalah kesalahan paling besar dariku. Aku begitu kewalahan oleh kecepatanmu sehingga akhirnya menggunakan bantuan sistem melebihi batas normalnya.”

Begitu Heathcliff mengangguk, wajahnya akhirnya menyingkap ekspresi lainnya; bibirnya bergerak perlahan membentuk senyum pahit.

“Awalnya aku berharap mencapai lantai 95 sebelum ini diuangkap.”

Senyumnya berubah menjadi penuh kuasa sambil perlahan menyapu pandangannya ke para pemain. lalu, sang paladin merah berkata dengan percaya diri:

“—Ya. Aku adalah Kayaba Akihiko. Aku juga raja terakhir permainan ini yang menunggu kalian di lantai teratas.

“…Kau memiliki selera yang aneh. tak terpikirkan bahwa pemain terkuat tiba-tiba jadi raja terakhir yang paling kuat.”

“Apa kau tak berfikir ini skenario yang menarik? Awalnya aku berfikir bahwa tersingkapnya ini akan memantik gelombang kejut ke seantero Aincrad, tapi tak pernah kupikir aku akan diketahui pada ¾ jalan permainan ini. Aku tahu kau adalah faktor yang paling tak bisa diprediksi dari permainan ini, tapi tak pernah membayangkan bahwa kau memiliki potensi semacam ini.”

Sebagai pencipta permainan ini yang telah memenjarakan pikiran 10 ribu pemain, Kayaba Akihiko tersenyum begitu berbeda dengan yang dimiliki Heathcilff sang Paladin. Tapi sosok tak tertandingi dan kokoh itu entah mengapa mirip dengan avatar tak beremosi yang turun pada kami dua tahun lalu.

Kayaba melanjutkan dengan senyum pahit:

“…Aku sudah mengira kaulah pemain yang akan menghadapiku di akhir. Dari 10 skill unik, <<Dual Blade>> diberikan pada pemain dengan kecepatan reaksi tertinggi, yang akan kemudian berperan sebagai pahlawan melawan raja terakhir, tak peduli dia menang atau kalah. Tapi kau telah menujukkan padaku kekuatan melebihi perkiraan, baik itu kecepatan maupun pandanganmu. Yah…Kupikir bahwa perkembangan yang tak diperkirakan sebelumnya adalah bagian dari esensi RPG online…”

Pada saat ini, salah satu pemain yang membeku bangkit perlahan. Dia salah seorang pemimpin KoB. Matanya yang tampak menyala berisi pederitaan tersiksa.

“Kau…kau…berani-beraninya kau mengambil kesetiaan—harapan kami…dan…dan…mengotori mereka sehancur-hancurnya—!”

Dia mengangkat Halberd raksasanya ke udara dan meluncurkan dirinya dengan sebuah teriakan. Bahkan tak ada waktu untuk menghentikannya. Kami hanya bisa menonton begitu dia mengayunkan senjatanya ke bawah pada Kayaba—Tapi Kayaba selangkah lebih cepat. Dia mengayunkan tangan kirinya dan dengan cepat memanipulasi jendela yang muncul; Orang itu langsung berhenti di tengah udara dan jatuh ke tanah dengan suara keras. Sebuah garis batas hijau menyala di sekitar batang HP-nya, mengindikasikan paralisis. Tapi, Kayaba tak berhenti disitu dan terus menggerakkan tangannya.

“Ah…Kirito…!”

Aku berbalik dan melihat Asuna bertekuk di tanah. Bukan hanya dia, tapi seluruh pemain selain aku dan Kayaba juga tertunduk ke tanah, melenguh dari posisi yang tak biasa.

Setelah menyarungkan pedangku, aku berlutut untuk memegangi tubuh bagian atas Asuna dengan lenganku, dan menggenggam tangannya, Lalu aku balik menghadap kayaba.

“…Apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan membunuh kami semua untuk menyembunyikan kebenaran…?

“Tentu saja tidak. Aku takkan pernah melakukan hal-hal yang sangat tak beralasan semacam itu.”

Ia tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

“Tapi karena keadaan telah mencapai titik ini, Aku tak punya pilihan lain. Akan memajukan jadwalku dan menunggu kedatanganmu di «Scarlet Jade Castle» di lantai atas, Adalah memalukan bahwa aku mesti keluar KoB, sebagaimana juga pemain garis depan lainnya, yang telah aku kembangkan dengan hati-hati untuk bertarung melawan mob-mob di lantai 90 keatas. Tapi aku percaya kalian semua seharusnya memiliki kekuatan yang cukup untuk mencapai lantai atas. Tapi…sebelum itu…”

Kayaba tiba-tiba berhenti berbicara dan menghadapkan matanya, yang penuh dengan kehendak yang meluap-luap, untuk terpusat padaku. Dia lalu menarik pedangnya dengan lembut ke lantai obsidian, dan sebuah suara logam yang tajam nan jelas bergema di udara.

“Kirito, karena kau telah menyingkap identitasku yang sebenarnya, aku akan menghadaihimu sebuah kesempatan: Kau bisa bertarung satu lawan satu dengan ku, disini sekarang juga. Tentu saja aku akan menghilangkan status abadiku. Jika kau menang, permainan akan langsung selesai, dan seluruh pemain bisa keluar. Apa jawabmu…?

Begitu dia mendengarnya, Asuna mulai menekan lenganku, mencoba sekerasnya untuk menggerakkan badannya yang lumpuh sambil menggelengkan kepalanya.

“jangan, Kirito…! Dia mencoba langsung menghabisimu…sekarang juga…Untuk sekarang kau harus mundur…!”

Instingku berkata itu jalan terbaik. Orang ini adalah admin yang bisa memanipulasi sistem. Meski dia bilang ini akan menjadi pertarungan yang adil, tak ada cara untuk mengetahui apakah dia entah bagaimana memanipulasi sistem atau tidak. Pilihan terbaik adalah mundur untuk sekarang dan mendatangkan sebuah rencana balasan bersama yang lainnya.

tapi…

Apa yang dikatakan orang itu? Bahwa dia membesarkan KoB? Bahwa kami pasti mencapai…?

“Benda yang penuh sampah…”

Tanpa sadar aku bergumam denagn suara nan kering.

Orang ini mengunci pikiran 10 ribu orang dalam dunia yang diciptakannya, dimana dia sudah membunuh 4 ribu dengan gelombang elektromagnetik. Dia menonton para pemain berusaha dengan bodoh dan kasihannya berdasarkan cerita yang disusun. Ini pasti pengalaman paling menyenangkan yang ada bagi seorang Game Master.

Aku memikirkan masa lalu Asuna, yang terbagi denganku di lantai 24. Aku mengingat airmata yang ditumpahkannya saat dia memelukku. Orang di depan mataku telah menciptakan dunia ini untuk kesenangannya sendiri dan menyakiti hati Asuna dalam jumlah tak terhitung, membuatnya berdarah hebat, tak mungkin bagiku mundur dari ini.

“baiklah. Ayo kita bereskan ini.”

Aku mengangguk pelan.

“Kirito…!”

Pada jeritan Asuna yang tertahan, aku menjatuhkan pandanganku pada sosok di lenganku. Nyeri menusuk hatiku seakan dadaku ditusuk sampai belakang, tapi entah bagaimana aku bisa memaksakan sebuah snyuman.

“Maaf. Tapi aku tak bisa…kabur sekarang…”

Asuna membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tapi lalu menyerah di tengah-tengah dan mencoba sebisanya untuk tersenyum.

Setetes airmata mengalir ke di pipinya.

“Kau tak berencana…mengorbankan dirimu, kan…?”

“Tentu saja…Aku pasti menang. Aku akan menang dan mengakhiri dunia ini.”

“OK. Aku akan percaya padamu.”

Bahkan jika aku kalah dan tewas, kau harus terus hidup—meski aku ingin mengatakan itu, tetap saja aku tak bisa mengeluarkannya. Aku hanya bisa memegangi tangan kanan Asuna dengan erat sebagai gantinya.

Setelah aku melepaskan tangannya, aku membaringkan tubuh Asuna ke bawah di lantai obsidian lalu bangkit berdiri. Aku perlahan menghampiri Kayaba yang tengah memandangi kami tanpa suara dan mengeluarkan kedua pedangku dengan suara tajam.

“Kirito! Hentikan—!”

“Kirito—!”

saat aku membalikkan kepala terhadap sumber suara, kulihat Klein dan Agil berteriak dan berusaha sekerasnya untuk bangkit. Aku pertama-tama memusatkan pandanganku pada Agil dan mengangguk perlahan padanya.

“Agil, terima kasih atas dukungannya pada pemain-pemain kelas petarung hingga saat ini. Aku tahu kau menghabiskan sebagian besar uang yang kau dapat untuk membantu pemain-pemain di lantai-lantai tengah.”

Aku tersenyum pada si raksasa yang matanya terbuka lebar sebelum menggeser pandanganku.

Si ksatria berkatana, dengan bandana sederhana dan pipi penuh janggut, gemetaran di lantai seakan dia masih berusaha mencari kata-kata untuk diutarakan.

Aku menatap lurus pada mata nan dalamnya dan mengambil napas dalam-dalam. Kali ini, tak peduli seberapa keras aku mencoba, aku tak bisa mengendalikan suaraku yang bergetar.

“Klein, waktu itu…Aku benar-benar menyesal….meninggalkanmu. Aku selalu menyesalinya.”

Begitu aku menyelesaikan baris pendek ini dengan suara parauku, sesuatu berkilar di sudut mata teman lamaku, dan airmata langsung mengaliri satu demi satu.

Dengan airmata yang masih memancar dari matanya, Klein menggeliat untuk bangkit sambil berteriak keras dengan suara parau yang hendak pecah:

“Sialan kau….! Kirito! Jangan meminta maaf! Jangan meminta maaf sekarang! Aku takkan memaafkanmu! Hingga kau mengundangku makan-makan di dunia nyata, aku pasti takkan memaafkanmu!!”

Aku mengangguk pada Klein, yang terus berteriak.

“Ya, aku janji. nanti aku akan mengunjungimu di dunia lain.”

Aku mengangkat tangan kananku dan memberinya jempol.

Akhirnya aku membalikkan pandanganku pada gadis yang membuatku mengatakan kata-kata yang telah terkubur dalam-dalam di hatiku selama dua tahun.

Aku memandangi wajah Asuna yang tersenyum dan dibanjiri airmata—

Aku menggumamkan permintaan maaf kepadanya dalam pikiranku dan membalikkan badan. Aku menghadapi Kayaba, yang masih memiliki wajah penuh kuasa mutlak, dan membuka mulutku:

“…Maaf soal ini, tapi aku punya satu hal untuk ditanyakan.”

“Apa itu?”

“Aku tak punya keinginan kalah, tapi jika aku mati—bisakah kau mencegah Asuna bunuh diri, bahkan bila hanya untuk masa yang pendek?”

Kayaba mengangkat alis karena terkejut, tapi dengan tenang mengangguk pada permintaanku.

“Baiklah. Aku akan menyetnya sehingga dia takkan bisa meninggalkan salemburg.”

“Kirito, jangan!! kau tak, tak bisa melakukan ini—!!”

Asuna menjerit penuh airmata di belakangku. Tapi aku tak berbalik ke belakang. Aku menggeser kaki kananku mundur, kubawa pedang kiriku maju sambil merendahkan pedang kanan, dan selesai menyiapkan kuda-kudaku.

Kayaba memanipulasi jendela dengan tangan kirinya dan menyamakan batang HP kami pada tingkat yang sama. tingkat yang tepat sebelum zona merah, dimana satu pukulan yang kuat bisa menentukan pertarungan.

Setelah itu, pesan sistem [Chance to Mortal Object] muncul di atas kepanya. Kayaba lalu menutup jendela-jendela, menarik keluar pedangnya yang dia tancapkan ke tanah, dan mengangkatnya di belakang tameng berbentuk salibnya.

Pikiranku sepenuhnya tenang dan jernih. Pikiran-pikiran semacam ‘maaf, Asuna’ menguap tak berbekas begitu aku menajamkan insting bertarung dalam diriku menjadi ujung pisau.

Jujur saja, aku tak tahu tentang kesempatan menangku. Jika kita hanya berbicara soal skill-skill pedang, maka dia tak lebih baik dariku berdasarkan pertarungan terakhir. Tapi itu hanya jika dia tak menggunakan ‘Bantuan lebih’. dimana hanya dia bisa bergerak sementara aku sepenuhnya beku di tempat.

Ini semua tergantung pada harga diri Kayaba. Berdasarkan kata-katanya, dia berencana mengalahkanku hanya dengan kekuatan «Holy Sword». Jika itu benar, maka kesempatanku bertahan melalui ini adalah mengalahkannya sebelum dia menggunakan kemampuan khusus manapun.

Jarak antara aku dan Heathcliff menegang. Rasanya seakan udara itu sendiri yang bergetar di bawah tekanan kehendak membunuh yang kami pancarkan. Ini bukan lagi sebuah pertarungan, melainkan menyabung nyawa. Ya benar—Aku akan—

“Membunuhmu…!!”

Aku meluncur ke depan dengan teriakan tajam.

Kuayunkan pedang kanan mendatar begitu jarak mendekat. Kayaba dengan mudah menahannya dengan tamengnya. Ada sejumlah percikan dan wajah kami diterangi untuk sedetik.

Sepertinya suara benturan logam menandai dimulainya pertarungan kami; Senjata kami langsung mempercepat diri kedalam kecepatan yang mematahkan rem dan mengisi ruang diantara kami.

Pertarungan ini adalah yang teraneh, namun pertarungan paling manusiawi dari semua pertarungan yang kulalui hingga saat ini. Kami berdua sudah saling menunjukkan skill-skill kami. Terlebih lagi, inilah orang yang merancang «Dual Blade», sehingga dia dengan mudah membaca kombinasi skill biasa. Itulah mengapa dia bisa menahan semua seranganku selama pertarungan terakhir kami.

Aku tak bisa mengandalkan kombinasi yang diberikan sistem; Aku harus mengandalkan kemampuan dan instingku sendiri untuk mengayunkan pedangku. Tentu saja aku tak dapat menerima bantuan sistem dengan cara ini, tapi aku masih bisa menggerakkan lengaku dengan kecepatan tinggi dengan bantuan indraku yang makin peka. Aku bahkan bisa melihat bayangannya, dan tampak bagai ada lusinan pedang di tanganku. Tapi—kayaba menahan mereka semua dengan ketepatan yang mencengangkan. Dia juga langsung membalas begitu aku menunjukkan kelengahan sekecil apapun. Keadaan masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berubah.. Aku berkonsentrasi pada mata Heathcliff sebagai usaha membaca bahkan sekeping pikiran dan reaksi musuh. Akhirnya kami saling bertukar pandang sebagai hasilnya.

Tapi Mata perunggu Kayaba—Heathcliff dingin dan sunyi. Tiada sesepora perasaan manusia yang ditunjukkannya kali terakhir.

Tiba-tiba sebuah rasa dingin mengaliri punggungku.

Lawanku adalah seseorang yang tanpa ampun membunuh sekitar 4.000 orang. Bisakah seorang manusia biasa melakukan hal semacam itu? Kematian 4.000, kutukan dari yang 4.000, dia bisa menanggung tekanan itu dan tetap tenang sempurna—Dia bukan seorang manusia, dia seekor monster.

“Aaaaaaah!”

Aku menjerit untuk menghapus kepingan kecil ketakutan yang muncul dari dasar pikiranku. AKu terus mempercepat gerakanku dan menghujaninya hantaman yang tak terhitung per detik. Tapi wajah Kayaba tak menunjukkan perubahan. Dia menahan seluruh seranganku dengan tameng salib dan pedang panjangnya dengan kecepatan yang tak dapat dilihat mata telanjang.

Apa dia hanya mempermainkanku—!?

Ketakutanku menjelma jadi ketegangan. Apa mungkin Kayaba hanya bertahan karena dia sebenarnya bisa menyerang balik kapanpun dia mau dan percaya diri bahwa dia bisa bertahan dari bahkan sebuah hantaman langsung dariku?

Kecurigaan mengambil alih pikiranku. Dia bahkan tak pernah memerlukan bantuan lebih dari awal.

“Sialan…!”

Tapi—bagaimana dengan ini—?!

Aku merubah pola serangku dan mengaktifkan «The Eclipse», skill tingkat tertinggi Dual Blade.

Bagaikan ujung gerhana yang menelan, pedangku mengirimkan 27 serangan beruntun pada Kayaba—

Tapi—kayaba telah menungguku menggunakan skill kombo yang dirancang sistem. Wajahnya memunculkan ekspresi untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai. ekspresi yang sangat berlawanan dengan yang ditunjukkannya terakhir kali— itu adalah senyum seseorang yang yakin atas kemenangan.

Aku menyadari kesalahanku begitu aku melancarkan serangan pembuka kombo ini. di saat-saat terakhir ini aku malah bergantung pada sistem, bukan pada diriku sendiri. Tapi sudah mustahil bagiku untuk menghentikan skill, dan begitu serangan berhenti, aku akan berada pada keadaan diam sesaat. Terlebih lagi, Kayaba membaca seluruh pukulanku, dari awal kombo hingga serangan terakhir. Begitu aku melihat Kayaba mengayunkan tamengnya dengan kecepatan yang membutakan, menangkis pedang-pedangku dengan pengetahuan dimana tiap pukulan akan mendarat, aku bergumam dalam pikiranku:

Maaf—Asuna…setidaknya kau harus—terus hidup—

Serangan ke-27 mengenai bagain tengah tameng, memancarkan hujan percikan. Lalu, dengan diiringi jeritan berdentang logam, pedang di tangan kiriku pecah.

“Yah, ini adalah selamat tinggal—Kirito-kun.”

Kayaba mengangkat pedangnya tinggi-tinggi diatasku yang terbengong-bengong. Sebuah sinar merah gelap terpancar dari pedang. Pedang merah darah itu diayunkan ke bawah padaku—

Di saat itu, sebuah suara kuat dan bergetar bergema dalam kepalaku.

Aku—akan melindungi—Kirito!!

Bayangan seseorang masuk diantara pedang merah Kayaba dan aku dengan kecepatan yang mengejutkan. Rambut panjang dan coklat chestnut menari di angin di depan mataku.

Asuna—bagaimana bisa—!?

Dia berdiri di depanku meski seharusnya dia tak bisa bergerak karena lumpuh. Dia dengan berani membusungkan dadanya dan membentangkan lengannya lebar-lebar.

Sebuah ekspresi terkejut terlihat di wajah Kayaba. Tapi tak ada yang bisa menghentikan serangannya sekarang. Semuanya bergerak seakan dalam gerak diperlambat begitu pedang panjang itu membelah jalannya ke bawah, melalui bahu Asuna dan terus hingga ke dada sebelum akhirnya berhenti.

Aku mengulurkan kedua tanganku pada Asuna begitu dia jatuh kebelakang padaku. dia terlentang dalam lenganku tanpa suara.

Begitu pandangannya bertemu denganku, Asuna tersenyum lemah. Bar HP-nya—habis.

Waktu berhenti.

Matahari yang terbenam. Padangnya. Angin sepoi-sepoinya. Cuaca yang agak dingin.

Kami berdua tengah duduk di sepuncak bukit dan melihat ke bawah ke danau yang berkilauan dengan warna merah keemasan dari matahari yang terbenam.

Suara daun-daun bergesekan. Suara burung-burung yang kembali ke sarangnya,

Dengan lembut, Dia memegangi tanganku, lalu menyenderkan kepalanya pada bahuku.

Awan-awan berlalu. Lalu bintang-bintang mulai bermunculan satu demi satu, berkemilau di langit petang.

Kami saling bertatapan dengan dunia yang terus merubah warnanya sedikit demi sedikit.

“Aku agak lelah. Bisakah aku beristirahat di pangkuanmu sebentar?”

Aku menjawab dengan sebentuk senyuman.

“Ya, tentu saja. Beristirahatlah dengan tenang—“

Asuna di tanganku sekarang tersenyum tepat seperti waktu itu, matanya berisi cinta tak terbatas. Tapi berat dan kehangatan waktu itu sudah habis menghilang.

Sedikit demi sedikit, tubuh Asuna dengan perlahan ditelan seberkas cahaya emas. Sinar-sinar kecil cahaya mulai runtuh dan menjauh.

“Ini lelucon kan….Asuna…ini…ini…”

Aku bergumam dengan suara penuh getaran. Tapi cahaya yang tak berperasaan semakin terang dan semakin terang lalu—Setetes airmata mengalir dari mata Asuna, yang bersinar sesaat sebelum menghilang. Bibirnya bergerak sedikit, perlahan, seakan dia memaksakan suara terakhirnya keluar darinya.

M a a f

K a u m e l a k u k a n y a n g t e r b a i k

Tubuhnya mulai melayang—

Cahaya yang membutakan meledak dalam tanganku, berubah wujud menjadi berjuta-juta poligon-poligon yang melayang di udara.

Dan tubuhnya tak berbekas sedikitpun.

Aku menjerit dalam sunyi dan berusaha sekeras-kerasnya untuk mengumpulkan cahaya-cahaya yang terpencar kembali ke tanganku. Tapi poligon-poligon emas terbang ke udara seakan ditiup angin, dimana mereka berpencar dan menghilang. Dengan begitu saja, dia telah meninggal.

Ini bukanlah sesuatu yang seharusnya terjadi. Ini tak mungkin terjadi. Ini seharusnya tidak. Seharusnya—. Aku berlutut di tanah seakan aku hendak runtuh, begitu poligon terakhir melayang turun ke telapak kananku lalu menghilang.


Sword Art Online – Chapter 21

Chapter 21


Ada sebuah grup yang jelas-jelas terdiri dari pemain berlevel tinggi, menunggu di alun-alun gerbang teleport level 75 di Collinia. Aku menduga mereka pasti kelompok boss. Begitu aku dan Asuna melangkah keluar gerbang dan menuju mereka, mereka semua tutup mulut dan mengirimkan tatapan menusuk ke arah kami. Beberapa bahkan memberikan salam guild.

Aku berhenti melangkah karena keterkejutan menguasaiku. Tapi Asuna membalas salam mereka lalu mencolek sisiku.

“Hei, Kirito, kamu kini seorang pemimpin, jadi kau harus menyalami mereka dengan baik!”

“Apa…?”

Aku menyalami mereka dengan canggung. Aku telah ambil bagian dalam banyak kelompok boss hingga saat ini, tapi ini kali pertama aku mengundang begitu banyak perhatian.

“Hei!”

Seseorang menekanku di pundak, aku memutar badan dan melihat Klein, si pemakai katana, tersenyum di bawah bandananya. Yang mengherankan, tubuh besar Agil juga berdiri di sampingnya, dilengkapi penuh dengan kapak dua tangan di genggamannya.

‘Apa?! Kalian juga ikut?”

‘Mengapa kau terkejut!? Apa kau merendahkan kami!?”

Agil berteriak tak senang.

“Aku bahkan meninggalkan tokoku karena kudengar kalian dalam masa-masa sulit. Tapi ternyata kini kau tak menghargai pengorbananku, ini membuatku…”

Aku memukul lengan Agil begitu dia ngomong dengan sikap berlebihannya.

“Aku sangat memahami sentimenmu. Jadi kami bisa mengeluarkanmu saat kita berbagi barang, kan?”

Saat aku mengatakan itu, sang raksasa menggelengkan kepala botaknya dan menyatukan alisnya membentuk angka delapan (八).

“Kalau itu sih…”

Begitu suara bergetarnya memudar, Asuna dan Klein meledak dalam tawa secara bersamaan. Ini cepat menyebar ke pemain lainnya dan sepertinya memeras habis ketegangan semua orang.

Tepat pukul satu, beberapa pemain baru tiba di gerbang, Ada Heathcliff, dalam jubah merah dengan tameng berbentuk salib di tangan, Juga para petinggi KoB. Udara tegang menyeruak sekali lagi diantara para pemain begitu melihat para pendatang baru.

Jika kita hanya membandingkan level dan status, orang yang lebih tinggi dari aku dan Asuna mungkin hanya Heathcliff sendiri. tapi koordinasi memusatkan kekuatan mereka pada kerja sama. Selain warna guild yang merah-putih, zirah dan senjata mereka sangat berbeda, namun kekuatan ikatan diantara mereka jauh lebih tinggi dari unit «The Army» yang pernah kami lihat.

Sang Paladin dan keempat bawahannya melangkah lurus menuju kami, yang memisahkan kelompok yang berkumpul menjadi dua. Klein dan Agil terpaksa mundur beberapa langkah, sementara Asuna dengan tenang berbalas salam dengan mereka.

Setelah berhenti, Heathcliff mengangguk pada kami sebelum berbicara kepada seluruh grup:

“Tampaknya semua orang sudah datang. Terima kasih. Kupikir semua sudah mengerti keadaan kita sekarang. Ini akan jadi pertarungan yang berat, tapi aku percaya bahwa kita akan menang karena kekuatan kalian. Kita akan bertarung demi kebebasan kita dari permainan ini—!”

Begitu Heathcliff berteriak dengan suara bertenaga, Pemain lainnya membalas dengan teriakan membahana mereka sendiri. Aku terkejut dengan karismanya yang menarik orang lain bagai magnet. Adalah mengejutkan melihat seseorang dengan kualitas kepemimpinan setinggi ini diantara para pemain keras yang biasanya kurang koordinasi sosial, atau mungkinkah dunia ini yang mengembangkan bakatnya? Aku membayangkan apa yang dilakukannya di dunia nyata…

Heathcliff memutar dan menghadapku seakan dia merasakan tatapanku, lalu berkata sambil tersenyum:

“Kirito-kun, aku berharap pada usahamu. Kuharap kau menggunakan «Dual Blades» sepenuh tenaga.”

Tiada beban maupun rasa takut terdengar dari suaranya yang lembut dan rendah. Seseorang tak bisa tidak kagum pada fakta bahwa Heathcliff bisa menjaga sikap kalemnya meski menghadapi pertempuran sulit di depan.

Setelah aku mengangguk dalam hening, Heathcliff berbalik pada para pemain dan mengangkat tangannya ke udara.

“Dengan ini, ktia mulai. Aku akan membuka sebuah koridor yang langsung mengarah pada daerah di depan ruangan si boss.”

Dia mengeluarkan sebutir kristal biru laut dari kantongnya saat berbicara, diiringi gumaman dan keterkejutan pemain lainnya.

Kristal-kristal teleport biasa hanya bisa memindahkan pengguna pada gerbang teleport kota tertentu, tapi barang yang dikeluarkan Heathcliff adalah sebutir «Kristal Koridor», yang bisa membuka sebuah gerbang teleport ke manapun yang ditandai pemain. Tak perlu disebutkan disini, bahwa itu adalah barang yang sangat berguna.

Tapi karena itu, ia juga sangat jarang dan tak dijual di toko-toko NPC Ia hanya bisa didapat dari peti harta karun labirin atau drop monster-monster, jadi beberapa pemain tak mau menggunakannya meski mereka punya. Alasan para pemain menyuarakan keterkejutan mereka bukanlah karena melihat sebutir barang langka, tapi karena Heathcliff hendak menggunakannya.

Heathcliff mengangkat kristal tersebut, tak memedulikan tatapan pemain lalu berteriak:

“Koridor, buka.”

Kristal yang luar biasa mahal tersebut pecah dan sebuah topan cahaya biru muncul.

“Kini, semuanya, ikuti aku.”

Setelah dia menyapu pandangannya ke semuanya, Heathcliff melompat ke dalam cahaya biru, diikuti kibaran pakaian merahnya di belakang. Tubuhnya langsung ditelan cahaya itu dan menghilang dalam sekejap. Keempat bawahan KoB-nya mengikutinya tanpa henti.

Saat ini, banyak orang mulai berkumpul di sekitar plaza. Mereka pasti telah mendengar soal pertempuran boss dan keluar untuk perpisahan dengan kami. Para ksatria berjalan ke dalam cahaya satu demi satu di tengah-tengah teriakan penyemangat.

Aku dan Asuna dengan cepat menjadi satu-satunya yang tinggal. Kami saling memandang dan bertukar anggukan kecil sebelum berpegangan tangan dan melompat kedalam topan cahaya bersama-sama.

Setelah rasa pusing dari teleportasi berlalu, aku membuka mataku dan melihat kami sudah berada di labirin. Ini merupakan koridor yang cukup luas, dengan dua baris pilar nan tebal dan sebuah gerbang raksasa di ujungnya.

Labirin lantai 75 dibangun dari sejenis obsidian yang agak transparan. Tak seperti labirn kasar dan mentah dari lantai-lantai bawah, batu-batu disini dipoles halus dan disusun berderet tanpa celah di antara mereka. Udaranya dingin dan lembab, dengan selapis tipis embun menyelubungi lantai.

Asuna merapatkan kedua lengannya ke badan seakan dia merasakan dingin lalu berucap:

“…Entah mengapa…aku benar-benar merasa tak enak…”

“Ya…”

Aku mengiyakan.

Dalam dua tahun hingga sekarang, kami sudah menyelesaikan 74 labirin dan mengalahkan monster boss dengan jumlah sama. Setelah mengumpulkan begitu banyak pengalaman, kami bisa secara kasar menebak kekuatan seorang boss hanya dengan melihat sarangnya.

Seluruh 30 pemain di sekitar kami membuka jendela mereka dan memeriksa perlengkapan mereka; Wajah mereka semua sangat serius.

Aku membimbing Asuna ke belakang sebatang tiang dan melingkarkan lenganku ke tubuh kecilnya. Ketegangan yang kutahan dari tadi kini menyembur karena pertempuran sudah dekat. Tubuhku bahkan gemetaran.

“Jangan khawatir.”

Asuna berbisik ke telingaku.

“Aku akan melindungimu.”

“Tidak…ini bukan karena aku takut bertarung.”

“Haha.”

Asuna tertawa kecil dan melanjutkan:

“Jadi…kau harus melindungiku juga, Kirito.”

“Ya…pasti.”

Aku memeluknya dengan lenganku sekali lagi sebelum melepasnya. Heathcliff, yang telah mengeluarkan perisai berbentuk salibnya, berbicara diiringi bunyi dentingan perlengkapannya.

“Apa semuanya siap? Kita tak punya info tentang pola kebiasaan boss. KoB akan bertanggung jawab menahan serangan musuh; Semua harus mengambil kesempatan ini untuk menganalisa pola serangan musuh dan membalasnya dengan tepat.”

Semua mengangguk dalam hening.

“Sekarang, saatnya beraksi.”

Kata Heathcliff lembut. Lalu dia berjalan penuh percaya diri ke pintu obsidian dan menempatkan tangannya di bagian tengah. Ini menyebabkan semua jadi sangat tegang.

Aku menepuk bahu Klein dan Agil, yang keduanya berada di sampingku, dan berkata pada mereka saat mereka berbalik:

“Jangan mati.”

“Heh, khawatirkan saja dirimu sendiri.”

“Aku tak hendak mati sebelum aku dapat untung dengan barang-barang langka yang kudapat dari pertarungan hari ini.”

Saat mereka mengucapkan guyonan sombong mereka, pintu mulai terbuka dengan suara derikan berat. Seluruh pemain telah menyiapkan senjata mereka, jadi aku juga menghunus kedua pedang dari penggungku. Aku menatap sekilas Asuna, yang memegang rapier di tangan, lalu mengangguk padanya.

Heathclif yang terakhir mengeluarkan pedang dari perisainya. Dia lalu mengangkat tangannya tingi-tinggi ke udara dan berteriak.

“—Mulai bertarung!”

Lalu dia berjalan melalui gerbang yang terbuka lebar ke dalam ruangan, dengan semuanya mengikuti tepat di belakangnya.

Ruangan didalam berbentuk seperti kubah besar. Sepertinya sebesar arena duel aku dan Heathcliff. Tembok-tembok menjulang tinggi ke angkasa, melengkung tinggi di atas kepala kami. Tepat setelah kedua puluh tiga pemain masuk ruangan dan membentuk formasi—pintu di belakang kami berdebam menutup. Kini pintu itu tak mungkin terbuka kecuali entah bossnya mati atau kami disapu habis.

Seluruh kelompok kini hening beberapa lama. Meski kami terus mengamati lantai sekeliling, boss tetap tak muncul. Waktu mencekik tegang syaraf kami sementara detik demi detik perlahan berlalu.

“Hey—“

Tepat ketika seseorang tak dapat lagi menahan ketegangan dalam keheningan itu…

“Dari atas!!”

Asuna berteriak dari sampingku. Aku melihat ke atas dengan terkejut.

Di langit-langit kubah—ia di sana.

Begitu besar dan panjang.

Seekor kelabang-!?

Pikiran itu muncul dalam pikiranku begitu aku melihatnya. Panjangnya sekitar 10 meter. Tapi tubuhnya terbagi kedalam beberapa bagian yang lebih mengingatkanku pada tulang belakang manusia dibandingkan seekor serangga. Kaki-kaki tajam dari tulang terlihat menonjol dari tiap sambungan. Begitu aku menggeser pandanganku ke bagian bawah tubuhnya, bentuknya semakin menebal, berakhir pada sebuah tengkorak mengerikan. Itu bukan tengkorak manusia. di ujung tengkorak nan halus itu, ada dua pasang liang mata yang menghadap ke atas dengan api biru menyala di dalam. Rahangnya menonjol keluar dan berisi sebaris gigi tajam. Dua lengan raksasanya yang berbentuk sabit menempel pada kedua sisi tengkorak. Saat aku memusatkan pandanganku padanya, nama monster itu muncul dengan kursor kuning: «The Skullreaper»

Pemain-pemain yang terkejut menonton kelabang rangka tersebut melata sepanjang langit-langit pada kaki-kakinya, tiba-tiba ia melebarkan kakinya—dan meloncat tepat kepada kami.

“Jangan hanya berdiri disana! Menyebar!!”

Suara tajam Heathcliff memotong udara nan beku. Para pemain akhirnya tersadar dan mulai bergerak. Kami buru-buru keluar dari daerah perkiraan jatuhnya.

Tapi ada 3 orang yang berada tepat dibawah daerah perkiraan yang sedikit telat. Mereka hanya berdiri di sama dan menengadah melihat ke atas seakan tak yakin kemana mereka harus bergerak.

“Kesini!”

Aku buru-buru berteriak. Ketiga pemain tersebut lalu sadar dari keterpakuannya dan mulai berlari menuju padaku—

Tapi tepat saat itu. si Kelabang telah mendarat di belakang mereka dan seluruh lantai berguncang keas. Ketiganya kehilangan keseimbangan karena itu, dan saat itulah si kelabang mengayunkan lengan kanannya—sebatang sabit tulang raksasa yang sepanjang orang, dan mengarah langsung pada mereka.

Ketiga pemain ditebas sekali pada punggung mereka dan langsung diterbangkan. HP mereka berkurang dengan sangat cepat selama mereka berada di udara—langsung melewati daerah kuning ke daerah bahaya merah—

“—!?”

Mereka semua mencapai 0, dan ketiga tubuh yang masih berada di udara pecah menjadi serpihan-serpihan yang tak terhitung dan tersebar. Efek suara kematian mereka saling bertabrakan.

“—-!!”

Kudengar Asuna menahan napas disampingku. Aku dapat merasakan tubuhku kaku dan terkejut.

Mereka mati—dalam satu pukulan—?!

Dalam sistem SAO, yang digunakan baik dalam keahlian dan tingkatan, HP maksimum seseorang naik seiring tingkatannya, jadi tingkat yang lebih tinggi berarti lebih sulit dibunuh tak peduli keahlian bertarung seseorang. Kelompok disini hari ini hanya terdri dari pemain-pemain tingkat tinggi, jadi meskipun seorang boss, semestinya semua masih bisa menahan setidaknya satu serangan gabungan pendek—itu yang dipikirkan semuanya. . Namun hanya dalam satu pukulan—

“Ini…mustahil…”

Asuna bergumam dengan suara yang dipaksakan keluar.

Kelabang bertulang yang telah mengambil nyawa tiga orang dalam sekejap mengangkat tubuh bagian atasnya dan menyerbu kelompok pemain lain dengan raungan nan keras.

“Ahhhh—!!”

Para pemain di arah itu berteriak panik. Sekali lagi, Sabit tulang terangkat tinggi ke udara.

Di saat kritis ini, seseorang meloncat tepat ke bawah sabit. Itu Heathcliff. Dia mengangkat tameng raksasanya dan menahan serangan itu, mengirimkan suara benturan yang memecah gendang telinga dan hujan percikan.

Tapi ada dua sabit. Dengan lengan kiri yang terus menyerang Heathcliff, ia mengangkat sabit kanannya dan mengayunkannya ke bawah pada para pemain yang terpaku.

“Sialan….!”

Aku berlari hampir tanpa sadar, dengan cepat menolkan jarak seakan sedang terbang, dan menempatkan diriku tepat di depan sabit itu. Lalu aku menghilangkan pedangku dan menahan serangannya, Kekuatan besar dari benturan mengenai badanku. Tapi—sabitnya tak berhenti. Dengan percikan yang keluar darinya, sabit itu mendorong mundur pedangku dan datang padaku.

Ini terlalu kuat—!

Saat itulah, sebuah pedang baru terbang dengan meninggalkan bekas cahaya putih dan mengenai sabit. Sebuah suara benturan bergema. Dengan sabit yang melemah, aku langsung mendorong dengan seluruh kekuatanku dan berhasil memaksa sabit tulang itu mundur.

Di sebelahku, Asuna melirik padaku dan berkata,

“Jika kita memukulnya secara bersamaan—kita bisa menahan serangannya! Jika itu kita, maka hal ini mungkin!!”

“Ok—ayo selesaikan ini!”

Aku mengangguk. Hanya dengan tahu Asuna disampingku memberikanku kekuatan tak terbatas.

Begitu sabit sekali lagi diayunkan secara horizontal pada kami, Baik aku maupun Asuna mengayunkan pada kanan bawah untuk menangkisnya. Pedang kami mengenai kepala sabit dengan selaras sempurna, dan kali ini sabit itu dipukul mundur.

Aku menguatkan suaraku dan berteriak:

“Kami akan menghentikan sabitnya! Yang lain serang sampingnya!”

Ini seakan suaraku akhirnya membebaskan semuanya dari semacam mantra. Para pemain berteriak, mengangkat senjata mereka, dan menyerbu tubuh kelabang bertulang itu. sejumlah pukulan menusuk tubuh musuh dengan dalam dan HP boss akhirnya sedikit berkurang.

Tapi langsung setelahnya, aku dapat mendengar jeritan beberapa pemain. Aku bertaruh dengan melirik setelah membalas sabit, dan kulihat beberapa orang dipukul jatuh oleh tulang panjang mirip tombak di ujung ekor kelabang.

“Argh…!”

Aku mengeraskan gigitanku. Kami harus membantu, tapi aku dan Asuna, dan juga Heathcliff yang tengah menahan sabit kiri sendirian di sebelah sana sudah sibuk.

“Kirito…!”

Begitu Asuna bersuara, aku menatapnya.

—Tidak! Jika fokus kita buyar, kita akan kena!

—Ya, kau benar…ia datang lagi!!

–Tahan dengan gerakan memotong vertikal kiri keatas!

Kami saling berbicara hanya dengan bertukar lirikan dan menahan sabit dengan gerakan-gerakan yang tersinkronisasi sempurna.

Kami memaksakan diri untuk mengabaikan jeritan-jeritan yang dapat didengar dari waktu ke waktu dan berkonsentrasi menahan hantaman-hantaman musuh yang bertenaga. Yang luar biasa adalah, kami tak butuh berbicara ataupun saling melirik satu sama lain. Sekaan kami tersambung langsung. Musuh menyerang dengan begitu cepat sehingga tak meninggalkan ruang untuk bernapas, tapi kami masih bisa selalu membalasnya dengan mengaktifkan keahlian yang sama persis di saat yang bersamaan

Tepat setelahnya-sambil bertarung hingga setengah mati, aku mengalami perasaan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Ini pengalaman yang sangat nyata—Seakan aku dan Asuna menyatu dalam satu tubuh dan mengayunkan satu pedang. HP kami kami terus berkurang sedikit demi sedikit karena getaran terusan setelah hantaman musuh yang kami tahan, tapi kami sudah tak memikirkan hal-hal semacam itu.


Sword Art Online – Chapter 20

Chapter 20


“Clearing Group dibantai—!?”

Kami disambut berita mengejutkan ini saat kami kembali ke markas KoB di Grandum untuk kali pertama dalam dua minggu.

Kami tengah berada di salah satu lantai atas dari menara besi yang berfungsi sebagai HQ, didalamnya ada ruang pertemuan dengan jendela besar dimana kami terakhir kali berbicara dengan Heathcliff . Heathcliff duduk di tengah meja besar berbentuk setengah lingkaran, dalam jubah panjangnya yang biasa. Pemimpin guild lainnya duduk di sampingnya, kecuali Godfree yang kali ini tak hadir. Heathcliff menyatukan jemari tangan kurusnya di depan wajahnya dan mengangguk pelan dengan muka masam nan dalam.

“Kejadiannya kemarin. Memetakan labirin lantai tujuh puluh lima memakan waktu agak lama, tapi kami bisa menyelesaikannya tanpa korban. Meski aku sudah mengira kami bakal mengalami masa sulit saat mengalahkan Boss…”

Aku memang merasa bahwa hal seperti ini akan terjadi. Sebabnya adalah, bahwa dari seluruh boss labirin, hanya lantai 25 dan 50 yang luar biasa besar dan kuat, sehingga menyebabkan kerusakan besar bagi kedua belah pihak yang bertarung.

Pertarungan dengan raksasa berkepala dua di lantai 25 secara kasat mata menyapu habis prajurit elit dari «The Army», yang merupakan sebab utama runtuhnya mereka sebagai organisasi. Saat monster berlengan enam, yang terlihat seperti patung logam Buddha, melancarkan serangan ganas selama pertarungan di lantai 50, banyak pemain yang ketakutan sehingga berteleport menjauh tanpa izin dan hampir-hampir menyebabkan garis depan runtuh, Jika bala bantuan datang sedikit lebih lambat saja, kami akan menghadapi sapu habis lainnya. Faktanya, orang yang mempertahankan garis depan sendirian selama pertarungan hingga bantuan datang berada tepat di depanku. Jika sebuah boss yang sangat-sangat kuat menanti dia di level 75, maka hampir bisa dipastikan boss ini sama.

“…jadi, aku mengirimkan kelompok perintis beranggotakan 20 orang, yang berasal dari 5 guild yang berbeda.”

Heathcliff melanjutkan dengan nada monoton. Karena matanya sedang setengah terbuka, mustahil untuk menebak emosi di belakang mata berwarna tembaganya.

“Mereka merintis dengan penuh perhatian. 10 dari mereka telah tinggal di luar ruangan boss sebagai cadangan…Tapi saat 10 yang pertama masuk dan mencapai pusat ruangan, gerbangnya menutup tepat ketika sang boss muncul. Berdasarkan laporan 10 orang yang menunggu di luar, pintu-pintu tetap menutup selama 5 menit, dan apapun yang mereka lakukan, termasuk merusak kunci dan menghantam pintu, tak berefek. Sampai dengan pintu akhirnya terbuka—“

Ujung mulut Heathcliff menegang, Dia memejamkan matanya sesaat lalu melanjutkan.

“Tiada orang di dalam ruangan. Si Boss dan kesepuluh orang telah menghilang. Tiada tanda-tanda teleportasi. Mereka tak kembali…dan aku mengirimkan seseorang untuk memeriksa daftar kematian di monumen logam di dalam Benteng Besi Hitam untuk mengonfirmasi…”

Dia tak mengatakan bagian selanjutnya keras-keras dan hanya menggelengkan kepalanya. Di sebelahku, Asuna menahan napas dan akhirnya berhasil memaksa suara kecilnya keluar:

“10…orang…bagaimana ini terjadi…”

“Sebuah area anti-kristal…?”

Heathcliff mengangguk pelan pada pertanyaanku.

“Hanya itu penjelasannya. Berdasarkan laporan Asuna-kun, lantai 74 juga sama, jadi mungkin sekali bahwa mulai sekarang, tiap ruangan boss akan memiliki area anti kristal.”

“Sial.”

Kutukku. Jika jalan kabur darurat tertutup, kemungkinan tewas karena hal-hal tak terduga bakal meningkat tajam. Janganlah kita menghasilkan korban—itu adalah tuntunan paling penting yang harus diikuti selama menyelesaikan permainan ini. Tapi mustahil untuk menyelesaikannya bila tak mengalahkan para boss…

“Ini semakin menjadi permainan kematian yang sesungguhnya…”

“Namun, kita tak bisa menyerah untuk menyelesaikan permainan karena hal ini…”

Heathcliff memejam matanya lalu berbicara dengan nada pelan tapi penuh hasrat:

“Sebagai tambahan dari area anti-kristal, ruangan itu juga menutup jalan keluar begitu boss muncul. Karena hal ini, kami hanya bisa menyerangnya dengan tim terbesar berupa pemain-pemain yang bisa kami perintah dan koordinasi. Sebenarnya aku tak hendak memanggil kalian berdua kembali, mengingat kalian baru saja menikah, tapi aku berharap kalian dapat mengerti dilema kami.”

Aku menjawabnya dengan mengangkat lengan.

“Kami akan membantu. Tapi aku akan menempatkan keselamatan Asuna sebagai prioritas tertinggiku. Jika keadaan berbahaya mucul, aku akan memprioritaskannya sebelum yang lain.”

Heathcliff tersenyum dengan sikap yang paling tak disadari.

“Yang berharap melindungi yang lain berarti mampu mengeluarkan kekuatan terhebat. Aku berharap pada pencapaianmu di medan tempur. Serangan akan dimulai 3 jam lagi. 23 orang, termasuk kalian berdua, diharapkan ikut. Kita akan bertemu di depan gerbang teleport di Collinia pada lantai 75 pada jam 1. Semuanya, Bubar.”

Begitu dia selesai, paladin merah dan orang-orangnya bangkit serta meninggalkan ruangan.

“3 jam—Apa yang harus kita lakukan?”

Asuna menanyaiku sambil duduk –tak-tahu-bagaimana di bangku logam. Aku hanya memandanginya dalam diam. Tubuhnya terselimuti seragam tempur putih dengan hiasan merah, rambut panjang lembutnya, mata coklatnya yang berkilauan—dia begitu cantik bagaikan permata tak ternilai.

Saat dia menyadari aku terus menatapnya tanpa membelokkan pandanganku, pipi Asuna memerah dan bertanya dnegan senyum malu-malu:

“A….apa?”

Aku dengan enggan buka mulut:

“…Asuna…”

“Apa?”

“Mohon jangan marah dan dengarkan aku. Boss yang kita hadapi hari ini…bisakah kau tak ikut dan menunggu aku kembali disini ?”

Pertama-tama, Asuna menatapku, lalu menundukkan kepalanya dengan wajah muram dan berkata:

“…mengapa kau mengatakan ini…?”

“Meski Heathcliff berkata begitu, kita tak bisa mengira-ngira apa yang akan terjadi di tempat dimana kristal tak bisa digunakan. Aku benar-benar takut…saat aku memikirkannya…bahwa sesuatu akan terjadi padamu…”

“Kau ingin aku menunggu di tempat aman sementara kau pergi ke tempat yang seberbahaya itu sendirian?”

Asuna bangkit dan berjalan menuju padaku dengan langkah tegap. Matanya berkobar dengan penuh hasrat.

“Jika aku melakukan itu dan kau tak kembali, maka aku akan bunuh diri. Aku tak hanya akan kehilangan alasanku untuk terus hidup, aku juga takkan pernah memaafkan diriku yang hanya menunggu disini. Jika kau ingin kabur, maka kita akan kabur bersama. Jika itu yang mau kau lakukan, maka aku setuju dengan itu.”

Dia selesai berbicara dan menyentuh bagian tengah dadaku dengan jemari tangan kanannya. Matanya melembut dan sebuah senyum lembut muncul di wajahnya.

“Tapi, kau tahu…semua yang ikut dalam pertempuran hari ini ketakutan, dan mereka semua ingin kabur. Namun, meski takut, mereka tetap setuju bergabung. Itu karena sang pemimpin dan Kirito…karena dua orang terkuat di dunia ini memimpin mereka…itu pemikiranku…Aku tahu kau tak suka memikul tanggung jawab. Tapi aku berharap kau mencobanya, hanya kali ini saja, bukan hanya untuk mereka, tapi juga untuk kita…supaya kita bisa kembali ke dunia nyata, jadi ktia bisa bertemu lagi; Aku berharap kita bisa melakukan yang terbaik bersama-sama.”

Aku mengangkat tangan kananku dan menggenggam tangan Asuna dengan lembut. Perasaan bahwa aku tak ingin kehilangan dia mengalir keluar dari dasar hatiku.

“…Maaf…aku, jadi lemah untuk sesaat. Sebenarnya, aku ingin sekali kita kabur saja. Aku tak ingin kau mati, dan aku juga tak mau. Kita tak perlu…”

Aku menerawangi kedalam mata Asuna dan terus berbicara.

“Tak apa-apa bila kita tak bisa kembali ke dunia nyata…Aku ingin terus hidup bersamamu di penginapan hutan itu. Kita berdua…selamanya…”

Asuna mencengkram dadanya dengan tangannya yang lain. Dia memejamkan mata dan bermuka masam, seakan hendak menahan sesuatu, lalu sebuah desahan kecewa keluar dari bibirnya.

“Yah…ini benar-benar seperti mimpi…Akan bagus sekali jika kita bisa melakukan itu…menghabiskan setiap hari bersama-sama…selamanya…”

Dia berhenti disitu dan menggigit bibir seakan dia tengah melepaskan mimpi yang takkan tercapai. Lalu dia membuka mata dan memandang menengadah padaku dengan wajah serius.

“Kirito, apa kau pernah memikirkan tentang ini…? Tentang apa yang terjadi pada tubuh nyata kita saat ini?”

Aku tersentak dan terdiam oleh pertanyaan tak terduga ini. Ini mungkin sesuatu yang ditanya-tanyakan tiap pemain. Tapi karena tiada cara berhubungan dengan dunia luar, tiada guna memikirkannya. Meski semuanya ketakutan, mereka juga menghindari menghadapi pertanyaan ini.

“Apa kau ingat? Orang itu…Pengenalan Kayaba Akihiko di awal permainan. Dia berkata bahwa NerveGear memperbolehkan pemutusan berjangka dua jam. Tapi alasannya adalah…”

“…Untuk memindahkan tubuh kita ke fasilitas kesehatan yang memadai…”

Asuna mengangguk ketika aku mengucapkan ini.

“Lalu beberapa hari kemudian, semuanya terputus selama kira-kira sejam, kan?”

Sesuatu seperti itu pasti terjadi. Aku telah melihat pada peringatan pemutusan dan khawatir apakah NerveGear akan membunuhku atau tidak dalam dua jam.

“Kupikir semuanya telah dipindahkan ke RS. Tak mungkin untuk merawat seseorang yang koma dalam rumah biasa selama bertahun-tahun. Lebih mungkin mereka memindahkan kita ke RS lalu menyambungkan kita kembali…”

“…Ya, rasanya kau benar…”

“Jika tubuh kita hanya terbaring di kasur, bertahan hidup hanya karena begitu banyak sambungan yang terpasang padanya…Aku pikir tubuh kita takkan selamanya aman dalam keadaan tersebut.”

Aku tiba-tiba dilingkupi ketakutan bahwa tubuhku mulai menghilang. Aku memeluk Asuna untuk mengonfirmasi keberadaan kami.

“…Dengan kata lain…entah kita menyelesaikan permainan ini atau tidak…akan selalu ada batas waktu…”

“…Dan batas waktu ini berbeda untuk tiap orang,,,Karena berbicara dengan «Sisi lain» adalah tabu, aku belum membicarakan ini dengan orang lain…tapi kau berbeda. Aku…Aku ingin menghabiskan seluruh hidupku di sisimu. Aku ingin berdua denganmu yang sebenarnya, menikah yang sebenarnya denganmu, dan tumbuh tua bersama-sama. Jadi…jadi…”

Dia tak bisa melanjutkan. Asuna mengubur wajahnya di dadaku dan meneteskan air mata. Aku pelan-pelan mengelus punggungnya untuk membantunya menyelesaikan kata-kata.

“jadi..kita tak punya pilihan selain bertarung saat ini…”

Ketakutanku tak benar-benar menghilang. Tapi bagaimana mungkin aku menyerah sekarang saat Asuna melakukan yang terbaik untuk membuka masa depan kami sambil berusaha begitu keras untuk menjaga dirinya agar tak runtuh.

Tak apa-apa—Pasti semanya baik-baik saja. Selama kita bersama, pasti akan—

Aku mengeraskan lenganku dan memeluk Asuna kuat-kuat untuk menghilangkan perasaan muram yang mengancam untuk menguasaiku.


Sword Art Online – Chapter 19

Chapter 19


3 hari kemudian, Nishida memberitahu kami pagi-pagi bahwa dia akan memancing dewa setempat. Sekitar 30 orang akan ada disana untuk menonton, karena sepertinya dia telah memberitahu teman-teman pemancingnya soal ini.

“Ini sangat mengganggu. Asuna…apa yang harus kita lakukan?”

“Hm~mmm…”

Sejujurnya, kami tak begitu senang dengan ini. Kami harus kesini untuk bersembunyi dari para penyebar isu dan penggemar Asuna, jadi kami agak enggan kalau harus tampil di depan banyak orang.

“Bagaimana kalau begini?!”

Asuna mengumpulkan rambutnya dan mendorongnya ke atas. Lalu dia menutupi wajahnya hingga mata dengan syal besar. Tak berhenti disitu, dia memencet beberapa tombol di jendela menunya dan mengenakan jaket panjang nan tawar.

“Y-yah, Baguslah. Kau terlihat seperti istri petani beneran.”

“…Apa itu pujian?”

“Tentu saja. Kalau aku sih, mereka takkan mengenaliku selama aku tak memakai perlengkapan tempur.”

Sebelum matahari terbit, aku berjalan keluar rumah dengan Asuna, yang membawa keranjang piknik kami. Dia bisa saja memanggilnya keluar saat kami tiba disana, tapi dia bersikeras ini bagian dari penyamaran.

Hari ini termasuk hangat, mengingat ini hari-hari awal musim dingin. Setelah berjalan melalui hutan pinus raksasa selama beberapa saat, kami akhirnya bisa melihat air yang berkilauan diantara batang-batang pohon. Banyak orang yang sudah berkumpul disana. Begitu aku menghampiri dengan segan-segan, seorang dengan figur badan yang dikenal melambai pada kami sambil terbahak-bahak.

“Wa-ha-ha, senang rasanya kita dapat cuaca baik hari ini!”

“Hai, Nishida oji-san.”

Aku dan Asuna menganggukkan kepala. Dia menceritakan pada kami bahwa kumpulan orang-orang disini dari berbagai umur dan kelompok adalah anggota dari guild memancing yang dijalankan Nishida. Kami menyalami semuanya dengan tegang, tapi sepertinya tiada yang mengenali Asuna.

Menyisihkan hal itu, Nishida ojiisan jauh lebih aktif dari yang kubayangkan. Dia pasti seorang pemimpin kelompok yang baik dalam perusahaannya. Suasananya sudah panas, karena mereka sudah mengadakan lomba memancing sebelum kedatangan kami.

“Eh~jadi, Acara utama hari ini akhirnya dimulai!”

Nishida mengumumkannya keras-keras sambil berjalan menuju kami dengan pancingan panjang di tangan, dan para penonton bersorak kegirangan. Kulihat pancingan yang dibawanya. Mataku menelusuri pancingan dengan pikiran kosong sebelum benda di ujungnya mengejutkanku,

Yang ada di ujungnya adalah kadal, dan ukurannya sangat besar. Panjangnya selengan-atas orang dewasa. Kulit hitam-merahnya yang terlihat beracun berkilat seakan menegaskan kesegarannya.

“Hiii,—“

Asuna bahkan menyadarinya lebih telat daripadaku, dan wajahnya membeku sambil mundur beberapa langkah darinya. Jika ini umpannya, apa yang akan kita berusaha tangkap pasti luar biasa.

Tapi sebelum aku sempat bertanya, Nishida menghadap ke danau dan mengangkat pancingannya. Dengan teriakan pendek,dia mengayunkannya dengan gerakan yang bagus, dan kadal besar membentuk sebuah lengkungan di udara sebelum jatuh ke air dengan suara yang keras.

Memancing tak perlu waktu tunggu dalam SAO. Begitu kau melempar umpan ke air, entah ikan mengambil umpan dalam beberapa detik, atau kau kehilangan umpan. Kami menelan ludah tanpa sadar saat menonton benang tenggalam perlahan-lahan.

Setelah beberapa saat, pancingan bergerak-gerak. Tapi Nishida tak bergerak seinci pun.

“I-ia kena, Nishida-san!”

“Masih terlalu cepat!”

Di belakang kacamata Nishida, sepasang mata yang biasanya mencerminkan kakek berhati hangat bercahaya. Nishida terus melihat ujung pancingan yang bergerak-gerak tanpa bergerak sedikitpun. Lalu pancingannya bergerak makin keras.

“Sekarang!”

Nishida menarik tubuh kecilnya mundur dan menarik pancingan dengan seluruh badan. Aku Bisa mengatakan talinya benar-benar tegang hanya dengan melihatnya, yang juga memberikan efek suara tang-tang.

“Ia mengambil baitnya! Aku percayakan sisanya padamu!”

Aku dengan hati-hati mengambil pancingan yang diserahkan Nishida, tapi ia tak bergeser sedikitpun. Rasanya bagai kail termakan sesuatu yang ditanam ke tanah. . Aku melihat balik pada Nishida, khawatir apa benar ikannya sudah menggigit, lalu dalam sekejap mata—

Talinya mulai tertarik kedalam air dengan kuat secara tiba-tiba.

“Ahhh!”

Aku cepat-cepat menancapkan kaki ke tanah dan menariknya ke atas lagi. Pengukur kekuatan-yang-dipakai dengan cepat menembus mode normal.

“A-apa baik-baik saja untuk menegangkannya?”

Tanyaku pada Nishida karena khawatir pada ketahanan pancingan.

“Ini kualitas tertinggi! Kau bisa menariknya sekuat yang kau mau!”

Nishida mengangguk, wajahnya sudah merah saking bergairahnya. Aku membenarkan pegangan pada pancingan lalu menariknya sekuat tenaga. Pancingannya bengkok di tengah dan membentuk U besar. Begitu tingkat pemain naik, mereka bisa memilih untuk meningkatkan kekuatan atau deksteritas. Pengguna kapak seperti Agil akan meilih kekuatan, sementara pengguna rapier macam Asuna akan fokus pada deksteritas.

Meski aku seorang pengguna pedang biasa dan meningkatkan keduanya, pilihan pribadiku cenderung memilih deksteritas sedikit di atas kekuatan.

Tapi sepertinya aku memenangkan tarik tambang ini karena levelku sendiri sudah sangat tinggi. Aku perlahan melangkah mundur, terus memaksa si besar itu keluar air.

“Ah, Aku bisa melihatnya!!”

Asuna mencondongkan badan ke air dan menunjuknya. Aku tengah melangkah mundur dan menjauh dari danau jadi aku tak bisa memeriksanya. Para penonton makin ribut dan berebut untuk melihat ke air, yang dengan cepat semakin dalam selepas pinggirnya. Aku tak bisa menahan kepenasaranku dan memusatkan seluruh kekuatanku untuk menarik pancingan.

“…?”

Tiba-tiba, sesuatu mengejutkan seluruh penonton yang dari tadi mengerubungi air. Setiap orang mengambil beberapa langkah mundur.

“Ada yang salah…?”

Bahkan sebelum aku selesai berbicara, mereka berbalik dan kabur. Bahkan Asuna dan Nishida berlari ke belakangku dari kedua sisi dengan wajah pucat. Aku baru saja hendak berbalik kebelakang untuk melihat mereka ketika – beban tanganku terangkat dan aku terjatuh dengan punggung di bawah.

Ah, apa talinya putus!?

Tepat ketika aku berpikir begitu, aku membuang pancingan dan berlari menuju danau, Saat itu, permukaan air yang berkilauan tiba-tiba menggelembung naik,

“Eh-!?”

Aku terpaku di tempat dengan mata terbelabak, dan saat itulah kudengar suara Asuna dari kejauhan :

“Kiritooo—itu berbahaya—!!!”

Saat aku berbalik, kulihat Asuna, Nishida, dll sudah naik ke tembok yang berdiri di ujung danau, yang cukup jauh dariku. Aku dapat mendengar air bergebyur-gebyur liar dibelakangku dan aku akhirnya mulai memahami keadaan. Lalu, dengan rasa tak enak, aku berbalik.

Ikannya berdiri.

Makhluk itu lebih tepat mirip seekor ikan raja , persilangan ikan dengan kadal, tapi yang ini lebih cenderung ke sisi kadal. Ia berdiri di sana di rerumputan dengan enam kaki kuatnya dan memandang ke bawah padaku, sedangkan air di tubuhnya jatuh bagai air terjun.

Aku berkata “memandang ke bawah” karena ini setidaknya setinggi 2 meter. Mulutnya yang tampak bisa menelan sapi bulat-bulat, berada sedikit di atas kepalaku dengan kaki kadal yang biasa kukenal terjulur keluar.

Dari kedua sisi makhluk berkepala ikan purba, dua mata seukuran bola basket bertemu dengan milikku. Sebuah kursor kuning muncul secara otomatis untuk menandainya sebagai monster.

Nishida sudah bilang pada kami bahwa dewa setempat dari danau ini adalah seekor monster dengan rasa beda dari yang berada di field.

Bagaimana ini berbeda? Si ini adalah seekor monster dalam tiap huruf kata-kata.

Aku memaksakan tersenyum dan mengambil beberapa langkah mundur. Lalu aku berbalik dan segera terbirit-birit. Ikan raksasa dibelakangku meraung menggelegar dan mulai mengikutiku dengan langkah yang menggetarkan bumi.

Aku memaksa stat deksteritasku hingga batas dan berlari seakan aku terbang. Aku mencapai Asuna dalam beberapa detik dan mengeluh keras-keras :

“I-itu curang! Kabur sendirian!!”

“Uwa. ini bukan saatnya mengatakan itu Kirito!!”

Aku berbalik dan melihat ikan raksasa berlari menuju kami dengan kecepatan yang mengagumkan meski ukurannya besar.

“Ooh, ia berlari di darat…jadi ini dipnoan…?

“Kirito-san, ini bukan saatnya mengatakan hal tak guna semacam itu!! kita harus kabur cepat-cepat!!”

Kali ini Nishida yang berteriak ketakutan. Lusinan penonton kaget dengan keadaan, dan beberapa dari mereka terduduk di tanah dengan wajah kosong.

“Kirito, apa kau membawa senjatamu?”

Kata Asuna sambil mendekatkan kepalanya ke sebelahku. Yah, bakal sulit untuk membuat semuanya kabur dalam situasi seperti ini—

“maaf, aku tak…”

“Oh, baiklah, Berarti Aku tak punya pilihan lain…”

Asuna menggelengkan kepala sambil berbalik menghadapi ikan raksasa yang mendekati kami. Dia dengan cepat membolak-balik menu dengan tangan nan ahli.

Dengan Nishida dan penonton lainnya menonton sambil terkejut, Asuna melepas jubah dan syal dengan punggung menghadap kami. Rambut coklat terangnya yang berkilauan oleh matahari menari liar di angin.

Meski dia hanya mengenakan rok panjang berwarna rumput dan kemeja dari kain hemp, sebuah rapier bersinar di sisi kiri pinggangnya bagaikan sebuah cermin. Dia menghunusnya dengan tangan kanan, dan pedang itu mengeluarkan bunyi ring-ring bersamaan dengan menunggunya Asuna untuk kedatangan ikan besar itu.

Nishida yang berdiri di sampingku, akhirnya tersadar dan menggoyangkan lenganku sambil berteriak:

“Kirito-san, I-istrimu dalam bahaya!!”

“Tidak, kita biarkan saja dia menangani ini.”

“Apa kau bilang!? ji-jika kau itu katamu maka aku…”

Dia menjambret sebuah pancingan dari temen yang terdekat dan bersiap berlari ke Asuna dengan wajah ngeri. Aku harus cepat-cepat menghentikan pemancing tua ini.

Ikan raksasa itu tak melambat sedikitpun. Ia membuka mulut besarnya, dimana di sana berbaris gigi tajam yang tak terhitung, dan melemparkan seluruh badannya pada Asuna seakan hendak menelannya bulat-bulat.

Asuna memutar sisi kiri badannya menjauh dari ikan itu dengan tangan kanan bergerak cepat keluar bersama sekilat cahaya putih di belakangnya.

Sebuah kilatan bercahaya yang membutakan menyemburat dari mulut ikan dengan efek suara ledakan. Ikan itu terlempar tinggi ke udara, tapi Asuna bahkan belum bergerak dari tempatnya.

Meski ukuran besar monster itu menimbulkan rasa takut, aku telah mengira levelnya tak mungkin begitu tinggi. Tak mungkin seekor monster dari lantai bawah, terutama yang dari quest yang berhubungan dengan memancing, bisa begitu kuat. Lagipula, SAO adalah permainan yang menjaga pola normal permainan online.

Ikan itu jatuh ke tanah dengan keras, HP-nya berkurang drastis oleh serangan Asuna. Lalu, Asuna dengan tanpa ampun melancarkan rangkaian serangan beruntun yang menunjuukan gelarnya «Flash».

Nishida dan penonton lainnya menonton tanpa berkatah sepatah kata pun pada Asuna yang mengaktifkan skill satu per satu sambil melangkah ringan seakan tengah menari. Apa kecantikan Asuna atau kekuatannya yang memesona mereka? Aku pikir mungkin keduanya.

Begitu Asuna mengayunkan pedangnya dengan aura yang menelan segala yang berada di sekitarnya, dia melihat HP lawannya telah berada pada daerah merah dan melompat kebelakang untuk memperlebar jarak di antara mereka. Setelah mendarat, dia langsung maju menyerang. Dia berlari menuju ikan itu sambil meninggalkan berkas cayaha di belakangnya bagai komet. ini adalah salah satu skill tertinggi rapier «Flashing Penetrator».

Dengan efek suara yang mirip ledakan sonik, komet itu menembus ikan dari mulut hingga ekor. Begitu Asuna mengerem untuk berhenti, monster raksasa di belakangnya terpecah menjadi jutaan serpihan cahaya yang tersebar. Ada suara benturan keras yang menciptakan riakan besar di permukaan danau.

Asuna menyarungkan rapiernya dengan sebuah “cling” dan berjalan pada kami seakan tak terjadi apa-apa. Nishida dan nelayan lainnya hanya bisa membuka mulut menganga lebar, membeku di tempat.

“Hei, kerja bagus.”

“Ini tak adil, membuatku bertarung sendirian. Kau nanti akan membeli makan siang.”

“Uang kita sekarang berupa data bersama.”

“Oh, benar…”

Selama Asuna dan aku meneruskan percakapan santai kami, Nishida akhirnya bisa mengejapkan mata dan membuka mulutnya.

“…ah, itu sangat mengejutkan… Nyonya, kau, kau benar-benar kuat. Ini mungkin tak sopan, tapi seberapa tinggi levelmu…?”

Asuna dan aku saling memandang. Berada di topik ini terlalu lama bakal berbahaya untuk kami.

“Se-sebelum itu, lihat, ikan itu menjatuhkan suatu item.”

Asuna memencet beberapa tombol di layar dan sebuah pancingan perak muncuk di tangannya, Karena seekor monster quest yang menjatuhkannya, sepertinya bisa dipastikan ini benda langka yang tak dijual.

“Oh, ooh, ini…!?

Nishida menerima pancingan itu dengan mata berbinar. Seluruh penonton juga tertarik. Tepat saat kupikir aku sudah berhasil melalui bahaya ini dengan aman…

“Apa…apa kau Asuna dari KoB…?”

Seorang pemain muda mengambil beberapa langkah mendekat dan menatapnya penuh intens. Lalu wajahnya mencerah.

“Yap, itu memang kau! Aku bahkan punya gambarnya!!”

“Ah..”

Asuna memaksakan dirinya tersenyum dan mengambil beberapa langkah mundur. Para penonton menggandakan kegairahan mereka.

“Ini, ini sebuah kehormatan! Untuk melihat Asuna san bertarung dari dekat…Oh ya! Bisa-bisakah kau memberikanku sebuah tanda ta…”

Pemuda itu tiba-tiba berhenti berbicara lalu membolak-balik pandangannya antara aku dan Asuna beberapa kali. Akhirnya dia menggumamkan sesuatu dengan wajah terkejut:

“Apa…apa kalian berdua telah menikah…?”

Kini giliranku memaksakan diri untuk tersenyum. Bersamaan dengan tersenyumnya kami yang dibuat-buat sambil berdiri di tempat, teriakan kemarahan meraung di sekitar kami, Hanya Nishida yang terus mengejap-ngejapkan mata tanpa mengerti apa yang tengah berlangsung.

Bulan madu rahasia kami berakhir seperti ini hanya dalam dua minggu. Tapi mungkin kami harus berpikir bahwa kami beruntung untuk mengambil bagian dalam quest yang menyenangkan di akhir.

Malam itu, kami menerima sebuah pesan dari Heathcliff yang meminta kami mengambil bagian dalam pertarungan melawan raja lantai 75.

Paginya.

Aku duduk di ujung kasur dan memandangi lantai sedangkan Asuna yang selesai bersiap-siap, berjalan mendekat dengan gemercang suara sepatunya dengan tanah.

“Hei, kau tak bisa terus begini.”

“Tapi ini baru dua minggu.”

Aku menjawab dengan sikap kekanak-kanakan dan menengadahkan kepalaku. Tapi aku tak bisa membantah bahwa memandangi Asuna dalam seragam Ksatria merah-putihnya untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu ini sangat menarik.

Karena kami meninggalkan guild untuk sementara, kami bisa saja menolak permintaan ini. Tapi baris terakhir pesan, dimana “beberapa orang sudah tewas,” mengganggu pikiran kami.

“Yah, kita sebaiknya pergi untuk setidaknya mendengar apa yang terjadi. Ayo, sudah waktunya!”

Begitu dia menepukku di punggung, akhirnya aku bangkit dengan enggan dan membuka layar equipment. Karena saat ini kami bukan bagian dari guild, aku mengenakan jaket kulit hitam dan seset baju pelindung minimalis, lalu menyimpan dua pedang di punggung dengan dua bilahnya saling bersilangan. Beban berat di punggungku seperti mengeluhkan bahwa mereka ditinggalkan di inventori selama beberapa lama. Dengan gerakan cepat, aku menghunus mereka perlahan lalu menyarungkan mereka kembali; sebuah suara logam tinggi dan jernih bergema di kamar.

“Yah, ini penampilan yang paling cocok bagimu.”

Asuna tersenyum dan memeluk lengan kananku. Aku melihat ke belakang dan mengucapkan selamat tinggal pada rumah baru kami, yang akan ditinggal jauh untuk beberapa lama.

“…Ayo kita cepat selesaikan ini lalu segera kembali.”

“Ya!”

Kami saling memandang dan menganggu. Kami membuka pintu dan melangkah keluar menuju udara menusuk musim dingin.

Di plaza gerbang lantai 24, kami menemukan Nishida menunggui kami dengan sebatang pancingan di tangannya. Kami bilang kapan kami akan pergi hanya kepadanya.

“Bisakah kita ngobrol sedikit?”

Aku mengguk pada permintaan Nishida, dan kami bertiga duduk saling bersebelahan di sebuah bangku di plaza. Nishida mulai berbicara perlahan sambil memandang ke atas pada lantai-lantai atas.

“Sebenarnya…hingga hari ini, cerita soal orang-orang yang bertarung untuk menyelesaikan permaninan di lantai-lantai atas terdengar seperti mereka dari dunia lain…Mungkin aku sudah menyerah untuk berpikir meninggalkan tempat ini.”

Aku dan Asuna mendengarnya tanpa suara.

“Kupikir kau sudah tahu ini, tapi Industri TI berkembang hampir tiap hari. AKu memulai karir ini sejak aku masih muda, jadi dulu aku masih bisa mengikuti mereka. Tapi kini aku sudah keluar dari lapangan itu selama dua tahun, dan aku tahu mungkin mustahil bagiku untuk mengejarnya kembali saat ini. Karena aku tak tahu entah aku bisa kembali ke pekerjaan lamaku atau tidak, atau apakah aku bakal diperlakukan sebagai halangan dan dibuang, kupikir lebih baik bagiku untuk memancing disini—” Dia berhenti berbicara dan membentuk senyuman pada wajah tuanya yang berkerut. Aku tak tahu apa yang harus kukatakakn. Sepertinya aku bahkan tak bisa membayangkan apa saja yang hilang darinya saat dia terpenjara dalam SAO.

“Aku juga—“

Asuna tiba-tiba mulai berbicara.

“Hingga setengah tahun lalu, aku juga memikirkan hal-hal seperti itu dan menangis sendirian tiap malam. Hari demi hari berlalu disini, dan semua: keluargaku, pergi ke kampus, dan semua yang berhubungan dengan dunia nyata terasa runtuh. Aku selalu bermimpi tentang dunia lain saat ku terlelap… Kupikir yang harus kulakukan hanyalah cepat-cepat menjadi kuat, dan menyelesaikan permainan ini lebih cepat, dan satu-satunya cara untuk itu adalah melatih keras skill senjataku.

Aku memandangi Asuna, terkejut. Meski aku tak pernah memerhatikan orang lain sebelumnya…tapi aku tak pernah merasakan yang seperti ini sama sekali selama kami berhubungan. Yah, ini bukanlah pertama kalinya aku salah menebak kepribadian seseorang…

Asuna menyadari pandanganku dan tersenyum kecil sebelum melanjutkan.

“Tapi, suatu hari pada sekitar setengah tahun lalu, tepat setelah aku berteleport ke kota di garis depan, aku melihat seseorang tidur di rumput plaza. Dia terlihat seakan dia berlevel cukup tinggi, jadi aku marah dan berkata, ‘Jika kau punya waktu untuk dihabiskan disini, pergilah ke dalam dungeon dan menyelesaikan lebih banyak…!”

Lalu dia menutup mulutnya dengan tangan dan tertawa.

“Lalu orang itu secara tak terduga menjawab, ‘Ini musim terbaik di Aincrad dan latar cuacanya juga sangat bagus. Sayang sekali bila pergi kedalam dungeon pada hari seperti ini.’ Lau dia menunjuk ruang disebelahnya dan berkata, ‘Mengapa kau tak tidur juga?’ Dia sangat tak sopan.”

Asuna berhenti tersenyum; matanya menerawang, lalu dia melanjutkannya:

Tapi apa yang dikatakannya mengejutkanku, Aku menyadari bahwa ‘orang ini ternyata hidup dalam arti sebenarnya di dunia ini.’ Dia tak memikirkan kehilangan hari di dunia nyata dan malah memusatkan diri pada menjalani hari-hari dalam dunia ini. Aku menemukan bahwa ternyata ada orang-orang seperti ini, jadi aku mengirimkan anggota guild lainnya untuk pergi dan mencoba berbaring di sebelahnya… Karena anginnya terasa sangat enak….kehangatannya tepat untuk tubuh, aku terlelap. Aku tak bermimpi buruk saat itu. Kemungkinan karena ini pertama kalinya aku mendapatkan tidur yang nyenyak sejak masuk dunia ini. Saat kuterbangun, hari sudah siang, dan orang itu tengah memandangiku tak sabar. Orang itu adalah dia…”

Begitu dia selesai, Asuna menggenggam tanganku erat. Aku merasa sangat malu. Aku agak-agak ingat hal semacam itu, tapi….

“Maaf Asuna…Aku tak bermaksud yang macam-macam; Aku hanya ingin tidur siang saja….”

“Aku tahu itu bahkan jika kau tak mengatakannya!”

Asuna mencibir, lalu dia kembali menghadap Nishida dengan senyum di wajah sebelum melanjutkan :

“Sejak hari itu…Aku terlelap sambil memikirkannya, dan hasilnya, segala mimpi buruk menghilang. Aku menemukan dimana kota tempat tinggalnya dan akan meluangkan waktu untuk sesekali mengunjunginya…lalu aku mulai menunggu-nunggu datangnya esok…lalu aku menyadari aku tengah jatuh cinta, aku sangat bahagia dan bersumpah untuk menjaga rasa ini. Ini pertama kalinya aku berpikir datang ke dunia ini adalah hal yang luar biasa…”

Asuna menundukkan kepala, menggosok mata dengan tangan bersarungnya, lalu mengambil napas dalam-dalam.

“Kirito adalah arti dibalik dua tahun hidupku disini. Dia juga bukti aku hidup dan alasan untuk terus mencari hari esok. Aku telah mengenakan NervGear dan datang ke dunia ini untuk menemuinya. Nishida oji-san…mungkin bukan tempatku untuk mengatakan ini, tapi kupikir anda telah meraih sesuatu dalam dunia ini. Tak diragukan lagi ini adalah dunia virtual, dimana yang kita lihat dan sentuh adalah tiruan yang tercipta dari data. Tapi bagi kita, hati kita ada dalam realita ini. Jika itu nyata, maka segala sesuatu yang kita alami disini juga adalah nyata.”

Nishida terus memejamkan mata dan mengangguk beberapa kali. Matanya sembab dibelakang kacamatanya. Aku juga berusaha sebaik mungkin untuk menahan airmataku.

Aku yang begitu, kupikir. Akulah yang terselamatkan saat aku tak dapat menemukan untuk hidup, entah saat aku di dunia nyata maupun setelah aku datang ke yang ini.

“…ya. Ya. kau benar…”

Nishida menerawangi langit lagi dan berkata.

“Apa yang kudengar disni juga adalah pengalaman tak ternilai. Pernah menangkap ikan lima meter juga salah-satunya…sepertinya hidupku disini tidak tak berarti, tidak tak berarti sama sekali.”

Nishida mengangguk sekali lalu bangkit.

“Ah, sepertinya aku telah menghabiskan waktu kalian terlalu banyak. Aku sangat yakin orang-orang seperti kalian bertarung untuk membebaskan kami, sehingga kita semua bisa kembali ke dunia nyata dalam waktu dekat…Meski tiada yang bisa kulakukan untuk membantu, Aku setidaknya bisa menyemangati dan mendukung kalian terus.”

Nishida memegang tangan kami dan bersalaman.

“Kami akan kembali. Mohon temani kami saat itu tiba.”

Aku berjanji dengan kelingkingku, dan Nishida mengangguk dengan senyum lebar dengan air mata mengaliri wajahnya.

Kami bersalaman erat dengan Nishida lalu berjalan menuju gerbang teleport. Begitu kamu memasuki bagian yang bersinar-sinar bagai ilusi, Aku dan Asuna saling menatap lalu membuka mulut kami secara bersamaan.

“Teleport—Grandum!”

Cahaya biru mulai menyelimuti pandangan kami, menghapus sosok Nishida, yang terus melambai pada kami.


 

Sword Art Online – Chapter 18

Chapter 18


Pelampung yang terikat pada benang pancing belum bergerak satu kalipun. Rasa mengantuk menyerang kesadaranku sementara aku melihat tarian cahaya mentari yang terpantulkan dari riak air danau yang berkilauan.

Aku menguap lebar dan menarik benang pancingku. Hanya sebuah kail perak pada ujung benang yang bersinar di bawah cahaya mentari; umpan yang telah aku pasang di atasnya telah hilang.

Lebih dari sepuluh hari telah berlalu semenjak kami pindah ke lantai dua puluh dua. Untuk mengumpulkan makanan setiap hari, aku telah menghapus teknik pedang dua tanganku , yang baru aku latih dengan singkatdahulu, dan menggantinya dengan teknik memancing. Aku mulai meniru Taikoubou dalam memancing. Tetapi untuk suatu alasan tertentu, aku tidak menangkap apapun. Nilai latihannya baru saja melewati angka 600, jadi aku tidak mengharapkan tangkapa besar apapun, tetapi aku berpikir bahwa aku seharusnya telah menangkap sesuatu sekarang. Malahan, aku hanya menghabiskan hari demi hari membuang kotak-kotak umpan yang aku beli di desa.

“Gah, hal ini sangat menjengkelkan…”

Aku menggumamkan keluhan-keluhanku, melempar joran pancing kesamping, dan merebahkan diriku ke tanah. Angin yang bertiup diatas air sedingin es, tetapi mantel yang dibuat Asuna dengan teknik menjahitnya membuatku tetap hangat. Asuna masih dalam tahap melatih teknik itu, jadi mantel yang dibuatnya masih belum sebaik pakaian yang dijual di toko-toko NPC. Tetapi karena mantelnya dapat digunakan dan membuatku tetap hangat, tidak ada yang perlu dipermasalahkan.

Sekarang adalah «Bulan dari Cypress» di dalam Aincrad, yang berarti sekarang adalah bulan November di Jepang. Walaupun sekarang sudah hampir memasuki musim dingin, memancing di SAO tidak memiliki hubungan apapun dengan musim. Mungkin hal ini sebenarnya karena aku telah menghabiskan semua keberuntunganku untuk mendapatkan istriku yang cantik.

Sementara aku memikirkan hal ini, keseluruhan diriku dipenuhi dengan kebahagiaan, dan sebuah senyum lebar tergambar di wajahku. Lalu tiba-tiba, sebuah suara mencapai telingaku.

“Bagaimana kabarmu?”

Aku melompat kaget dan melihat seorang pria berdiri disana saat aku berbalik.

Tubuhnya terbungkus dengan pakaian tebal, termasuk dengan sebuah topi dengan penutup telinga, dan memegang joran pancing di kedua tangannya sepertiku. Tetapi hal yang mengejutkan adalah usianya. Tidak peduli bagaimana aku melihatnya, dia sepertinya paling tidak berusia lima puluh tahun. Kedua mata dibalik kacamata berbingkai logam menunjukkan usia seorang yang sudah senior. Diantara para pecandu game berat di dalam SAO, sangat jarang melihat seseorang yang sangat tua. Sebenarnya, aku belum pernah melihat seorangpun sebenarnya. Mungkinkah-?

“Aku bukan seorang NPC.”

Dia tersenyum kecut seakan-akan dia telah membaca pikiranku, dan kemudian secara perlahan melangkah menuruni lereng danau.

“M-Maaf. Aku hanya heran…”

“Tidak, tidak apa-apa. Hal itu dapat dimengerti. Aku kemungkinan besar adalah pemain paling tua di sini.”

Tubuh sehatnya terayun sementara dia tertawa “wa-ha-ha” sepenuh hati.

“Permisi.”

Dia engatakan hal itu sementara dia duduk di sampingku. Dia mengambil sebuah kotak umpan dari pinggulnya, lalu dengan canggung membuka sebuah pop-up menu, mengambil joran pancingnya, dan menaruh umpannya di sana.

“Namaku adalah Nishida. Aku adalah seorang pemancing disni. Di Jepang, aku bekerja sebagai kepala bagian perawatan dari sebuah perusahaan bernama Tohto Broadband Connection. Maaf aku tidak membawa kartu nama bisnisku.

Dia tertawa lagi.

“Ah…”

Aku hampir dapat menebak alasan mengapa dia berada di dalam permainan ini. Tohto adalah sebuah perusahaan operator network yang bekerja sama dengan Argas. Merekalah yang bertanggung jawab untuk mengurus network yang menghubungkan server-server SAO.

“Namaku Kirito. Aku pindah kesini dari lantai atas beberapa saat yang lalu. Nishida oji-san… pasti sedang… merawat koneksi network SAO…?”

“Aku adalah yang bertanggung jawab atas hal itu.”

Nishida mengatakan hal itu sembari mengangguk. Aku melihatnya dengan perasaan yang rumit. Hal ini berarti dia telah terlibat dalam semua ini disini karena pekerjaannya.

“Haha, para atasanku berkata bahwa tidak perlu masuk ke dalam permainan, tetapi aku tidak dapat merasa tenang sepenuhnya sebelum aku melihat hasil pekerjaanku dengan mataku sendiri, dan karena kekhawatiran orang tua sepertiku, aku menjadi seperti ini.”

Dia mengayunkan joran pancingnya dengan gerakan yang luar biasa halus saat dia mengatakan hal ii, dan seseorang dapat mengetahui bahwa dia sudah memiliki professional mastery dari seorang pemancing yang ahli. Dia juga sepertinya senang bercakap-cakap, karena dia meneruskan percakapannya tanpa menunggu balasan dariku:

“Selain aku, ada sekitar dua puluh hingga tiga puluh orang tua lain yang berada di sini karena berbagai alasan. Kebanyakan dari mereka hidup dengan aman di Starting City, tetapi aku jauh lebih menikmati hal ini dibandingkan dengan hanya makan tiga kali sehari.”

Dia mengangkat joran pancingnya sedikit.

“Aku telah tanpa henti mencari untuk mencari sungai-sungai dan danau-danau yang bagus, dan pada akhirnya naik hingga ke tempat ini.”

“Oh, benarkah… Yah, hampir tidak ada monster di lantai ini.”

Nishida hanya tersenyum akan apa yang aku katakan tanpa menjawab. Lalu dia bertanya kepadaku:

“Lalu, apakah ada tempat yang bagus di lantai atas?”

Dia bertanya.

“Hmmm… Yah, lantai enam puluh satu seluruhnya adalah danau, sebenarnya, lebih mirip laut, dan mereka berkata bahwa seseorang dapat menagkap ikan yang besar di sana.”

“Ohh! Aku lebih baik pergi ke sana suatu saat.”

Pada saat ini, pelampung dari joran pancingnya mulai tenggelam dengan cepat. Nishida tidak membuang waktu untuk menariknya. Sepertinya level teknik memancingnya cukup tinggi, begitu pula dengan kemampuan sebenarnya untuk memancing.

“Woah, besar sekali!”

Sementara aku memaksakan tubuhku untuk bersandar ke depan, Nishida dengan tenang menggulung benang pancingnya dan dengan cepat menarik ikan biru yang berkilauan itu. Ikan itu menggelepar di tangannya beberapa kali lalu menghilang ke dalam inventory-nya.

“Luar biasa…!”

Nishida tersenyum malu sementara dia mengangkat kepalanya untuk menjawab:

“Bukan apa-apa. Yang perlu kamu lakukan di sini hanyalah menaikkan teknik memancingmu.”

Lalu dia menambahkan hal ini sementara dia menggaruk kepalanya:

“Tetapi, walaupun aku dapat menangkapnya, aku masih tidak tahu bagaimana cara memasaknya dengan baik… Aku ingin memakan sashimi atau ikan panggang, tetapi aku tidak dapat melakukan apapun tanpa kecap.”

“Ah… benar juga…”

Aku ragu-ragu untuk beberapa saat. Kami pindah ke sini untuk menghindari orang lain, tetapi aku berpikir bahwa orang ini tidak akan tertarik dengan rumor dan gosip.

“…Aku tahu mengenai sesuatu yang terasa mirip sekali dengan kecap…”

“Apa!?”

Nishida menyandar lebih dekat dengan kedua matanya bersinar dibalik kacamatanya.

Saat Asuna menyambut kepulanganku dan melihat Nishida, kedua matanya terbelalak kaget, namun kemudian dia tersenyum dan berkata:

“Selamat datang. Seorang tamu?”

“Yeah, dia adalah Nishida oji-san, seorang pemancing. Dan-“

Suaraku melemah sementara aku berbalik melihat Nishida dan tidak yakin bagaimana memperkenalkan Asuna. Lalu, Asuna tersenyum kepada pemancing tua itu dan memeperkenalkan dirinya sendiri:

“Aku adalah istrinya, Asuna. Selamat datang ke rumah kami.”

Dia mengangguk dengan penuh percaya diri.

Nishida menatap Asuna dengan mulut tebuka. Asuna sedang memakai sebuah rok panjang polos, sebuah kemeja rami dengan celemek, dan sebuah kerudung di atas kepalanya. Dia terlihat sangat berbeda dengan citranya sebagai seorang pejuang yang mengesankan sebagai seorang anggota KOB, tetapi kecantikannya tidak berubah.

Setelah berkedip beberapa kali, Nishida akhirnya tersadar kembali dan mengatakan:

“Ah, ahh, aku minta maaf. Aku telah terpesona untuk sesaat. Namaku Nishida. Maaf mengganggumu seperti ini..”

Dia menggaruk kepalanya dan tertawa.

Asuna menerapkan semua keahlian memasaknya yang mengesankan kepada ikan besar yang telah ditangkap Nishida, dan menaruhnya di meja setelah mengubahnya menjadi sashimi dan ikan panggang dengan kecap sebagai bumbunya. Sementara aroma dari kecap buatan tangan tercium di dalam rumah, Nishida melebarkan lubang hidungnya dengan rasa senang tampak di wajahnya.

Ikan itu lebih terasa seperti ikan yellowtail dengan tambahan sejumlah minyak dibandingkan dengan rasa seperti kan air tawar. Menurut Nishida, kamu memerlukan setidaknya 950 poin dalam memancing sebelum kamu dapat menangkapnya. Setelah sebuah percakapan pendek, kami bertiga terfokus untuk memakan ikan itu dengan sumpit kami.

Piring-piringnya telah kosong dalam sekejap mata, dan Nishida menghela napas dengan ekspresi kebahagiaan saat dia memegang secangkir teh panas dengan kedua tangannya.

“…ah, makanan tadi sangat memuaskan. Terima kasih. Untuk berpikir bahwa kecap ada di dunia ini.”

“Oh, kecap ini buatan tangan. Kamu dapat membawa beberapa denganmu bila kamu suka.”

Asuna mengambil sebuah botol kecil dari dapur dan memberikannya kepada Nishida. Aku berpikir bahwa ini adalah ide yang bagus untuk tidak memberitahukannya resep dari kecap itu. Asuna lalu tersenyum dan berkata kepada Nishida yang berterima kasih:

“Jangan khawatir akan hal ini; anda juga membawakan kami ikan yang baik.”

Dia lalu melanjutkan perkataanya:

“Kirito-kun belum pernah menangkap apapun.”

Pada serangan mendadak ini, aku hanya menyesap tehku dalam keheningan sebelum menjawab:

“Danau-danau di area ini semua terlalu susah.”

“Tidak, tidak juga. Hanya danau tempat Kirito-san memancing saja.”

“Eh…”

Apa yang Nishida katakan membuatku tidak dapat berkata-kata. Asuna memegang perutnya dan mulai tertawa tanpa henti.

“Kenapa mereka mengaturnya seperti itu…?”

“Sebenarnya, di danau itu…”

Nishida menurunkan nada suaranya sebelum melanjutkan, jadi Asuna dan aku menyandar ke depan.

“Aku rasa dewa setempat tinggal disana.”

“Dewa setempat?”

Sementara suara Asuna dan aku bergema bersama, Nishida tersenyum, membetulkan kacamatanya, dan kemudian melanjutkan perkataannya:

“Pada item shop di desa, disana ada sebuah umpan yang jauh lebih mahal dari umpan yang lain. Aku penasaran mengenai kemampuannya, jadi aku memutuskan untuk memebelinya sekali dan mencobanya.”

Aku menelan ludah karena naluri.

“Tetapi aku tidak dapat menangkap apapun dengan umpan itu. Setelah mencobanya di berbagai tempat, aku akhirnya berpikir untuk mencoba pada danau yang sulit itu.”

“Apakah, apakah kamu menangkap sesuatu…?”

“Sebenarnya, sesuatu menangkap umpannya.”

Nishida mengangguk dalam, dan raut wajahnya menjadi raut wajah yang menunjukkan penyesalan:

“Tetapi aku tidak dapat menariknya dengan kekuatanku dan pada akhirnya kehilangan joran pancingku karena itu. Aku hanya berhasil melihat bayangannya dalam saat-saat terakhir. Hal itu tidak hanya besar, kamu dapat memanggilnya sebuah monster, tetapi dalam arti lain dengan monster yang muncul di padang.”

Dia membuka lebar kedua tangannya. Hal ini mungkin adalah alasan di balik senyumnya yang penuh arti ketika aku berkata, “Hampir tidak ada monster di lantai ini.”

“Uwa, aku ingin melihatnya!”

Asuna berseru dengan kedua matanya berkilauan. Lalu, Nishida bertemu pandang denganku dan berkata:

“jadi aku memiliki sebuah usulan— apakah kamu memiliki kepercayaan diri dengan strength stat-mu Kirito-san…?”

“Yah, kelihatannya tidak apa-apa…”

“Lalu bagaimana bila kita memancingnya bersama? Aku akan menahannya hingga dia menggigit umpannya dan kemudian menyerahkan sisanya kepadamu.”

“Hmm, jadi kita akan melakukan «Switch» sementara memancing… apakah hal itu mungkin…?”

Aku memiringkan kepalaku ke samping.

“Mari kita coba, Kirito-kun! Hal ini kelihatannya menarik!”

Asuna mengatakan hal ini dengan kata “bersemangat” tertulis jelas di wajahnya. Tetapi, tidak salah jika aku juga agak tertarik dengan hal ini.

“Lalu mari kita segera mencobanya.”

Ketika aku menjawab, sebuah senyum tersebar di wajah Nishida.

“Itu baru semangat, , wa-ha-ha.”

Malam itu.

Setelah berseru, “Dingindingin,” Asuna merangkak masuk ke tempat tidur, lalu merapatkan tubuhnya denganku dan membuat suara tanda kepuasan hati. Dia berkedip dengan enggan dan kemudian tersenyum seakan-akan dia baru saja memikirkan sesuatu.

“… ada banyak sekali orang-orang yang berbeda di sini.”

“Dia adalah orang yang menarik,bukan?”

“Yeah.”

Asuna kemudian tiba-tiba menarik senyumnya dan menggumam:

“Hingga saat ini, aku hanya bertarung di lantai atas. Aku telah lupa sama sekali bahwa di sini juga banyak orang yang menjalani kehidupan normal…”

“Aku tidak bermaksud mengatakan bahwa kita adalah seseorang yang istimewa; tetapi sejak kita berada pada level yang cukup tinggi untuk bertarung di garis depan, aku rasa hal ini juga berarti kita memiliki sebuah kewajiban kepada mereka.”

“…Aku tidak pernah memikirkan mengenai hal ini seperti itu… Aku selalu merasa bahwa menjadi lebih kuat adalah hanya sebuah jalan untuk bertahan hidup.”

“Aku merasa bahwa banyak orang akan mulai bergantung kepadamu mulai sekarang. Tentu saja aku juga termasuk.”

“…Tetapi dengan kepribadianku, mendengar ekspektasi semacam ini hanya membuatku ingin melarikan diri.”

“Oh kamu ini.”

Sementara Asuna mencibir tidak puas, aku membelai rambutnya dan berharap bahwa kehidupan seperti ini akan berlanjut sedikit lebih lama. Demi Nishida dan pemain lainnya, kami harus kembali ke garis depan pada titik tertentu. Tetapi setidaknya untuk sekarang-

Berdasarkan pesan-pesan yang dikirimkan oleh Agil dan Klein kepadaku, aku tahu bahwa mereka sedang kesulitan untuk menyelesaikan lantai tujuh puluh lima. Akan tetapi, aku percaya dari lubuk hatiku yang terdalam, bahwa hal yang paling penting untukku sekarang adalah kehidupan ini bersama Asuna.


Sword Art Online – Chapter 17

Chapter 17


Terdapat empat macam hubungan antara dua pemain di dalam sistem dari SAO.

Yang pertama adalah dua orang yang tidak saling mengenal sama sekali. Yang kedua adalah teman. Para pemain yang telah saling mendaftarkan satu sama lain sebagai teman dapat saling mengirim pesan singkat antar teman tidak peduli dimana mereka berada. Mereka juga dapatsaling mencari lokasi teman mereka melalui peta.

Yang ketiga adalah anggota satu guild. Selain keuntungan yang telah disebutkan diatas, mereka juga mendapatkan sedikit peningkatan status mereka ketika mereka berkelompok dengan teman dari guild yang sama. Akan tetapi, mereka harus menyerahkan sebagian kecil dari Coll yang mereka peroleh sebagai pajak dari guild.

Hingga sekarang, Asuna dan aku adalah teman dan anggota satu guild, walaupun pada kenyataannya saat ini kami sedang beristirahat dari kegiatan guild. Tetapi kami telah memutuskan untuk memasuki tahap terakhir dari hubungan antar pemain.

Pernikahan— walaupun sebenarnya langkah untuk menikah sebenarnya sederhana sekali. Ketika seseorang mengirimkan pesan lamaran dan orang yang lain menerimanya, mereka kemudian telah dinyatakan menikah. Tetapi perbedaan dari pernikahan dengan teman atau anggota satu guild sangat jauh.

Pernikahan di SAO berarti membagi semua informasi dan item. Yang satu dapat melihat stat window yang lain setiap saat, dan bahkan inventory window mereka bergabung menjadi satu. Dengan kata lain, hal ini berarti mempercayakan jaring pengaman paling penting seseorang kepada partner mereka. Di dalam Aincrad, dimana pengkhianatan dan penipuan umum terjadi, sangat sedikit yang bertindak hingga sejauh tahap pernikahan bahkan diantara pasangan-pasangan yang paling dekat. Tentu saja, alasan penting lainnya adalah perbandingan pria-wanita yang sangat tidak seimbang.

Lantai dua puluh dua adalah salah satu dari area yang paling jarang ditinggali di Aincrad. Karena lantai ini adalah salah satu dari lantai-lantai tingkat bawah, lantai ini terhitung besar; tetapi sebagian besar dipenuhi oleh hutan-hutan dan banyak danau yang tersebar disekitar area ini; karena itu, daerah untuk tempat tinggalnya sangat kecil sehingga dapat disebut sebagai hamlet [1]. Monster jarang muncul di padang, dan karena tingkat kesulitan dari labirinnya sangat rendah, level ini telah terselesaikan dalam tiga hari dan sebagian besar pemain tidak begitu banyak mengingat mengenai level ini.

Asuna dan aku memutuskan untuk membeli sebuah pondok yang kecil, dan bundar didalam hutan pada lantai dua puluh dua ini untuk tinggal disana. Walaupun ukurannya kecil, tetap dibutuhkan uang yang cukup banyak untuk membeli sebuah rumah didalam SAO. Asuna menawarkan untuk menjual rumahnya di Salemburg, tetapi aku dengan bersikukuh menolak hal itu, karena akan menjadi sangat disayangkan untuk menjual sebuah rumah yang telah diperlengkapi dengan perabotan secara sempurna. Jadi pada akhirnya, kami mengumpulkan semua barang langka kami dan menjualnya dengan bantuan dari Agil, yang akhirnya berhasil mengumpulkan cukup uang untuk membeli rumah itu.

Walaupun Agil berkata dengan ekspresi sedih bahwa kami dapat menggunakan lantai dua dari tokonya bila kami mau, aku berpikir bahwa menghabiskan masa bulan madu di dalam toko pedagang terlalu mengenaskan. Selanjutnya, aku bahkan tidak mau membayangkan apa yang akan terjadi setelah fakta bahwa Asuna yang sangat terkenal telah menikah diketahui. Aku berpikir bahwa kami seharusnya dapat menghabiskan hari-hari kami dengan tenang di lantai dua puluh dua yang jarang ditinggali.

“Uwa— betapa indahnya pemandangan ini!”

Asuna menyandarkan diri ke depan, keluar dari jendela kamar tidur kami; walaupun disebut kamar tidur, sebenarnya hanya ada dua ruangan di dalam rumah ini.

Pemandangan di luar memang sangat mempesona. Tempat ini terletak dekat dari tepi Aincrad, jadi seseorang dapat melihat danau-danau yang bergemelapan, hutan yang hijau, dan langit yang terbuka bebas secara bersamaan. Karena kami biasanya tinggal dengan langit-langit batu sekitar seratus meter di atas kami, langit bebas memberikan kami rasa kebebasan yang tidak dapat dijelaskan.

“Hanya saja jangan jatuh dari jendela sementara kamu melihat pemandangan.”

Aku berhenti mengatur perabotan rumah tangga dan melingkarkan tanganku di sekitar Asuna. Wanita ini sekarang adalah istriku— ketika aku memikirkan tentang hal itu, kehangatan dari cahaya mentari yang terang di musim dingin, rasa takjub yang mengagumkan, begitu juga dengan rasa terkejut mengenai seberapa jauh kami telah melangkah semua menyerangku secara bersamaan.

Sebelum aku terperangkap di dalam permainan ini, aku hanyalah seorang anak yang pergi ke sekolah dan kemudian kembali ke rumah tanpa cita-cita apapun dalam hidupku. Tetapi sekarang, dunia nyata telah menjadi masa lalu yang jauh.

Bila— bila permainan ini sudah diselesaikan, kami dapat kembali ke dunia nyata… hal itu adalah yang semua pemain, termasuk Asuna dan aku, harapkan untuk menjadi nyata. Tetapi aku tidak dapat menahan rasa cemasku yang muncul setiap kali aku memikirkan mengenai hal ini. Aku tanpa sadar menguatkan pelukan tanganku kepada Asuna.

“Kirito-kun, sakit… Apakah ada sesuatu yang salah…?”

“M-maaf… Hey, Asuna…”

Untuk sesaat aku berhenti berbicara, tetapi aku harus menyelesaikan pertanyaanku.

“…hubungan kita, apakah hanya dalam permainan…? Apakah hubungan ini akan menghilang setelah kita kembali ke dunia yang lain…?”

“Aku akan menjadi marah, Kirito-kun.”

Asuna berbalik dan menatapku dengan kedua matanya yang penuh dengan emosi.

“Walaupun ini hanyalah sebuah permainan normal dibandingkan dengan situasi aneh ini, aku tetap tidak akan menyukai orang lain dengan begitu saja.”

Dia menekan kedua pipiku dengan kedua tangannya dan kemudian berkata:

“Aku mempelajari sesuatu disini, dan hal itu adalah terus berusaha dan jangan pernah menyerah. Bila kita berhasil kembali ke dunia nyata, aku pasti akan datang mencari Kirito-kun lagi, dan aku akan tetap menyukaimu.”

Berapa kali aku telah mengagumi kejujuran dan ketegaran hati Asuna? Atau mungkin saja hatiku yang terlalu lemah.

Tetapi walaupun aku adalah yang lebih lemah, hal ituu tidak menjadi masalah. Aku telah lupa sejak lama betapa menyenangkannya untuk menggantungkan diri kepada orang lain dan merasakan orang lain bergantung kepadaku. Aku tidak tahu berapa lama kami dapat tinggal di sini, tetapi setidaknya kami terletak jauh dari pertempuran selama masa waktu ini—

Aku membiarkan pikiranku mengembara dan mengonsentrasikan perasaanku kepada kelembutan dan bau harum yang memenuhi kedua tanganku.